Archive for February, 2007

Virus-virus ganas mulai menggerogoti keluarga anggrek

Sunday, February 11th, 2007

Dactylorhiza foliosa termasuk anggrek species asli pulau Madeira. Seiring dengan permintaan yang tinggi akan anggrek ini, maka pengembangan kultur jaringan komersial skala besar terus digalakkan hingga kuantitas D.foliosa tersedia secara masal sebagai tanaman hias kebun yang bernilai tinggi.

Pada Juni 2005, telah ditemukan suatu sampel D.filosa yang menunjukkan gejala bercak klorosis. Sampel ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh beberapa peneliti dari Central Science Laboratory di Inggris diantaranya A. Skelton, M. Daly, T. Nixon dkk, untuk mengidentifikasi sejumlah virus yang diduga menginfeksi anggrek ini termasuk diantaranya Tomato spotted wilt virus, Impatiens necrotic spot virus, Cymbidium mosaic virus, Odontoglossum ringspot virus dan Bean yellow mosaic virus (BYMV). Subsekuen eksaminasi dengan transmisi mikroskop elektron menditeksi adanya form partikel-partikel virus dengan ukuran lebar sekitar 750 nm. Penemuan ini dikonfirmasi dengan RT-PCR dengan desain primer sekuen BYMV seperti yang tersedia di gen bank (BYMV F 5’-GGTGAATGGACHATGATGGATGG and BYMV R 5’-CAAGCATGGTGTGCATAT GCATATCACG; CSL). Terakhir, partikel virus ini ditransmisi kedalam 2 species indicator dengan inokulasi mekanis. Gejala pada daun di observasi pada species Chenopodium quinoa (klorois lokal) dan Nicotiana benthamiana (distorsi dan mozaik). Test ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) atas tanaman indikator ini akhirnya menunjukkan gejala serangan dari BYMV. BYMV adalah penyakit yang umum pada tanaman kacang-kacangan dan inang lainnya (Bos, 1970). Pertama kali diidentifikasi di Inggris pada 1930 sebagai “pea mozaik”. Dan pada tahun 1995 telah dilaporkan untuk pertama kalinya serangan virus ini pada berbagai jenis anggrek di Amerika, Jerman dan Jepang (Lawson & Hsu, 1995). Akhirnya hasil penelitian pada pertengahan tahun 2005 inilah, untuk pertama kalinya BYMV menginfeksi anggota dari genus Dactylorhiza. Diharapkan fakta ilmiah ini dapat menggugah kewaspadaan negara basis anggrek seperti Indonesia untuk lebih memperketat mobilitas anggrek dari luar negeri atau masuknya materi-materi pembawa penyakit dari luar ke dalam Indonesia.
Jangan sampai tahun 2007 ini dan seterusnya akan muncul laporan bahwa virus BYMV telah hadir ditengah-tengah kita semua. Waspada…!!! Waspadalah….!!!

Daftar Pustaka :

  • Bos L, 1970. Bean yellow mosaic virus. AAB Descriptions of Plant Viruses No. 40.

  • Lawson RH, Hsu H-T, 1995. Orchid. In: Loebenstein G, Lawson RH, Brunt AA, eds. Virus and Virus-like Diseases of Bulb and Flower Crops. Chichester, UK: John Wiley & Sons, 409-420.

Disarikan dari artikel ilmiah The British Society for Plant Pathology

Potensi Bioweapon Sebagai “Destroyer” Baru Bagi Dunia Peranggrekan Indonesia

Monday, February 5th, 2007

penyakit
Gambar oleh Destario Metusala 07

Bila mendengar kata senjata biologi (biology weapon/bioweapon), pasti yang pertama tersbesit adalah penyakit-penyakit menular pada manusia seperti antrax, botulinum, ebola, cacar ganas, maupun penyakit pada ternak seperti sapi gila bahkan flu burung. Tapi jangan salah sangka, saat ini ancaman lain justru datang dari sector pertanian. Suatu perang terselubung untuk menghancurkan sistem ketahanan pangan dan ekonomi suatu negara.

Persenjataan biologi mendapat perhatian sejumlah kalangan pada akhir-akhir ini karena berkaitan dengan kemudahan  pembuatan dan propagasi massa hayati (mikroba) tidak saja oleh ahli biologi/mikrobiologiwan semata tetapi juga mereka yang berpengalaman dalam kerja laboratorium mikrobiologi atau propagasi sel (kultur jaringan). Adanya mikroba bakteri, cendawan dan virus yang bersifat patogen akan sangat bermanfaat untuk “perang hayati” dan banyak anggotanya sangat mudah untuk diperoleh, dikembangbiakkan, dimodifikasi dan disebarluaskan. Walaupun kenyataan  bahwa senjata biologi sangat bermanfaat dalam penanganan kekuatan militer biasa, kemungkinan lain yaitu penggunaan senjata biologi oleh kelompok-kelompok terorganisir sebagai alat dalam usaha penghancuran sistem pertanian suatu bangsa. Sistem pertanian merupakan unsur pokok dalam pembangunan ekonomi suatu negara agraris khususnya di basis negara-negara berkembang seperti kawasan Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur, khususnya lagi Indonesia sebagai negara dengan sumber pendapatan sebagian besar penduduknya berasal dari pertanian.

Berdasarkan data Sakernas yang telah diolah kembali (UPPLS, 1999) jumlah tenaga kerja pertanian (petani) masih mendominasi hampir separuh dari tenaga kerja nasional. Pada tahun 1992-1998 terlihat bahwa mulai tahun 1992-1997 jumlah petani terus menurun, tetapi karena adanya krisis ekonomi mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang keluar dari sektor pertanian kembali lagi  menekuni bidang pertanian sehingga tahun 1998 jumlah petani meningkat.  Hal ini membuktikan bahwa sektor pertanian masih tetap merupakan penyangga dalam penyerapan tenaga kerja akibat meningkatnya jumlah pengangguran. Bagi negara berkembang dengan sector agraris sebagai pondasi utama nya, swadaya pangan menjadi tuntutan penting untuk mencapai ketahanan pangan baik lokal maupun nasional.

Melihat pentingnya sistem pertanian bagi suatu negara agraris seperti Indonesia, maka selayaknyalah kita waspada terhadap segala bentuk peyusupan agen-agen biologis yang berperan sebagai bioweapon. Bahkan dugaan salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet adalah kegagalan pemerintah negara itu menjaga ketahanan pangan. Hal itu disebabkan gandum Uni Soviet selalu terserang penyakit karat batang (Puccinia graminis) yang dibawa oleh turis-turis Barat ke negara itu. Karena kekhawatiran serupa, Amerika Serikat menerbitkan Undang-Undang (UU) Bioterorisme. Dalam UU pengganti UU Karantina Tumbuhan. Disitu disebutkan bahwa patogen penyebab penyakit tanaman dicantumkan sebagai salah satu senjata biologis. Dengan UU itu, kalau ada orang membawa tanaman atau apa pun yang diduga mengandung patogen, ia bisa dikenai ancaman hukuman berat karena dikategorikan teroris. Kasus nyata lain yaitu terinfeksinya lahan kentang di Jawa dan Sumatera Utara akibat benih kentang dari Perancis yang membawa penyakit nematode sista kuning (Globodera rostochinensis) pada Maret 2003. Penyakit ini meyebabkan lahan yang sudah terinfeksi tidak dapat ditanami kentang hingga 15 tahun lamanya. Agen hayati lainnya yang memiliki potensi sebagai agen hayati perusak adalah Magnaporthe grisea pada tanaman padi.

Hal yang sama dapat terjadi pada industri anggrek nasional yang saat ini mulai berkembang. Masalah kompetisi bisnis, ekonomi dan politik dalam bisnis peranggrekan internasional dapat saja menjadi latar belakang adanya penyusupan bioweapon ke suatu negara yang memiliki basis bisnis anggrek. Dengan demikian, kewaspadaan nasional perlu digalakkan sedini mungkin untuk mencegah masuknya jenis-jenis penyakit baru yang berpotensi merusak industri peranggrekan nasional. Cukup banyak jenis-jenis penyakit yang potensial sebagai agen bioweapon untuk menyerang anggrek baik dari golongan bakteri, cendawan maupun virus. Dengan serangkaian kegiatan isolasi, lalu uji coba preferensi inang, kemudian dilanjutkan dengan rekayasa resistensi penyakit dengan induksi kimiawi, lalu diuji kembali dengan metoda postulat Koch, yang disusul dengan evaluasi persentase serangan dan uji resistensi penyakit terhadap pestisida. Dengan serangkaian kegiatan ini, diupayakan untuk ditemukan penyakit dengan tingkat serangan yang lebih ganas (virulensi tinggi), memiliki range inang yang luas (polifag) serta toleran terhadap paparan pestisida dosis tinggi.

Indonesia menjadi negara yang sangat rawan karena beberapa hal, yaitu :

  • Memiliki plasma nutfah anggrek alam terbesar di dunia sebagai modal dasar dalam pemuliaan anggrek dimasa mendatang.
    Merupakan harta besar bagi Indonesia sekaligus incaran bagi ilmuan-ilmuan botani dan para pemulia tanaman termasuk breeder anggrek di seluruh dunia sebagai modal untuk merakit hybrid-hybrid baru yang unggul, khususnya bagi pesaing di negara-negara Asia, karena mereka memiliki pola iklim yang lebih sesuai untuk anggrek-anggrek dari Indonesia.

  • Termasuk negara yang banyak mengimpor bibit-bibit anggrek dari mancanegara.
    Bibit impor yang telah diinfeksi dengan mikroba patogen berbahaya dapat menjadi “amunisi” bioweapon saat tiba di Indonesia dan tercampur di lokasi budidaya, dan akan semakin merebak luas dengan cepat seiring dengan distribusi perdagangan lokal.

  • Bisnis anggrek di Indonesia banyak menjadi topangan bisnis skala rumah tangga maupun skala industri besar.
    Bisnis anggrek dari sektor hulu hingga hilir sedikit banyak mampu memperkuat perekonomian masyarakat di lini terbawah sekaligus terbukanya peluang berkembangnya industri anggrek nasional serta meningkatnya apresiasi perakitan hybrid-hybrid baru yang lebih unggul. Oleh karena itu, peluang ekspor nasional akan semakin meningkat san membuat persaingan bisnis anggrek baik lokal maupun Internasional semakin kompetitif.

  • Mulai bangkitnya industri anggrek nasional untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang dahulu selalu ditutup dengan import.

  • Indonesia merupakan negara tropis dengan kelembaban tinggi, sehingga sangat potensial untuk berkembangnya mikroba-mikroba patogen

  • Lemahnya sistem karantina dan pengawasan impor terhadap komoditas pertanian dari luar negeri
    Peluang masuknya bibit-bibit impor yang telah terinfeksi bioweapon akan semakin lebar

Satu hal penting yang sangat diincar pihak luar adalah kekayaan plasma nutfah anggrek alam yang dimiliki Indonesia, karena dari situlah bahan genetic untuk merangkai anggrek-anggrek hybrid di masa depan. Apabila semua plasma nutfah dan varian-varian unggul telah “ditransfer” ke luar negeri baik melalui perdagangan ilegal maupun penyelundupan….saat itulah tombol roket bioweapon segera dipencet untuk merusak industri budidaya dalam negeri sehingga menciptakan ketergantungan komoditas anggrek (misal bunga potong dll) terhadap pasokan anggrek dari luar. Selain itu, dengan rusaknya kantung-kantung sentra budidaya anggrek nasional, maka ekspor anggrek otomatis juga akan melemah, ditambah dengan peraturan bioterrorisme di manca negara yang semakin ketat yang kesemuanya bermuara pada melemahnya posisi Indonesia dalam bisnis anggrek lokal maupun internasional. Just say goodbay….

Mungkin artikel ini tampak terlalu phobia atau bahkan hiperbola bagi banyak orang, bahkan banyak pula yang tersenyum geli. Fiuh ~_~ !!, namun yang pasti, misi untuk menyampaikan wacana ini telah tersampaikan, sehingga sedikit banyak sudah ada upaya untuk terus meningkatkan kesadaran akan kewaspadaan dini terhadap berbagai kemungkinan. Keep smiling and thinking ^_^!!

By Destario Metusala 07

Bioinsektisida, pengendali hama yang ramah lingkungan

Sunday, February 4th, 2007

Serangan hama merupakan salah satu faktor pembatas untuk peningkatkan produksi pertanian yang dalam kasus ini adalah pemeliharaan anggrek. Untuk megendalikan hama seringkali digunakan pestisida kimia dengan dosis yang berlebih. Padahal akumulasi senyawa-senyawa kimia berbahaya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Ditengah maraknya budidaya pertanian organik, maka upaya pengendalian hama yang aman bagi produsen/petani dan konsumen serta menguntungkan petani, menjadi prioritas utama. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan jamur penyebab penyakit pada serangga (bioinsectisida), yaitu jamur patogen serangga Beauveria bassiana.
Jamur Beauveria bassiana adalah jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Kemudian hifa-hifa tadi membentuk koloni yang disebut miselia. Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya.

inokulan murni nya rio
Gambar oleh Destario Metusala 07

Laboratorium BPTPH Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengembangkan dan memproduksi secara massal jamur patogen serangga B. bassiana sebagai insektisida alami. Berdasarkan kajian jamur B. bassiana efektif mengendalikan hama walang sangit, wereng batang coklat, dan kutu (Aphids sp). Akan tetapi, bukan tidak mungkin akan efektif bila diuji coba pada serangga-serangga hama anggrek seperti kutu gajah.

Sistem kerjanya yaitu spora jamur B. bassiana masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Selain itu inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang dapat berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kutikula tubuh serangga. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, miselia jamur akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Serangga yang terserang jamur B. bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih.

Dilaporkan telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur B. bassiana. Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphids sp.) pada tanaman sayuran.
Beberapa keunggulan jamur patogen serangga B. bassiana sebagai pestisida hayati yaitu :

  • Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.
  • Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.
  • Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman
  • Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

Teknik aplikasinya cukup mudah, yaitu dengan mengambil 2-3 gr formulasi dan disuspensikan dalam 1 ltr air, tambahkan 3 sendok gula pasir per tangki, waktu semprot sore hari. Dalam satu kemasan formulasi B. bassiana, berisi 100 gram formulasi padat. Itupun dapat dikembangbiakan secara konvensional, sehingga lebih menghemat pengeluaran. Akhirnya, walaupun keberhasilan dari insektisida biologis dari jamur ini memberikan dampak positif terhadap pengendalian serangga hama tanaman dan keselamatan lingkungan. Namun dalam penerapannya di masyarakat masih minim, sehingga memerlukan upaya sosialisasi yang lebih intensif.

Wisata Ekologis Interaktif sebagai Alternatif Konservasi Anggrek Berbasis Pariwisata

Sunday, February 4th, 2007

hutan
Gambar diambil dari www.ditjenphka.go.id

Permasalahan yang dihadapi dalam pelestarian flora khususnya anggrek alam di Indonesia kian hari semakin bertambah komplek, bukan hanya karena semakin menyempit dan rusaknya habitat, namun juga karena bentuk-bentuk eksploitasi tak bertanggung jawab seperti perdagangan anggrek alam tak terkendali. Dengan berbagai permasalahan tersebut, tak elak lagi kepunahan kehidupan anggrek di alam tidak sekedar isapan jempol para pemerhati lingkungan, namun saat ini benar-benar sudah berada dititik kritis dimana laju kepunahan tersebut akan merangkak mulai dari species-species pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-NTT dan sekitarnya, kemudian Papua. Bahkan penulis berkeyakinan, Sumatera dan Sulawesi akan mengalami kepunahan ekosistem anggrek di alam pada 2015 bila tidak ada langkah-langkah signifikan yang segera dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. Hal ini berdasarkan pada perbandingan laju kerusakan dan eksploitasi di alam yang sangat amat jauh lebih cepat dibanding regenerasi populasi anggrek secara alami yang membutuhkan proses panjang hingga puluhan tahun. Kerusakan hutan tentu berimbas secara langsung pada rusaknya populasi anggrek di alam. Laju kerusakan hutan berjalan demikian cepatnya, bahkan dalam 1 hari luasan 5127,12 hektar dapat habis seketika. Jangan bangga dulu, karena pada detik inipunpun luas hutan dinegara kita tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Data FAO menyebutkan bahwa setiap tahunnya rata-rata 1,871 juta hektar luas hutan kita telah habis. Pada tahun 2005 luas hutan Indonesia yaitu 88,495 juta hektar, namun tahun 2006 yang lalu, angka ini terus menurun hingga 86,624 juta hektar. Dari data tersebut dapat dibayangkan berapakah jumlah populasi anggrek alam yang terkena imbasnya. Angka diatas belum ditambah dengan angka kerusakan populasi anggrek di alam akibat laju eksploitasi tak terkendali oleh para pemburu dan pedagang anggrek tak bertanggung jawab. Lalu, bagaimana dengan laju regenerasi dan rehabilitasi populasi anggrek di alam??? Di propinsi DIJ sendiripun tak lebih dari 10 ha per 5 tahun.
Masih dapatkah kita para pecinta anggrek Indonesia berdiam diri???

Produk hukum yang telah dibuat untuk mengatur pelestarian alam termasuk didalamnya pelestarian flora dan fauna di Indonesia sudah lama diundangkan. Antara lain UU No.5 th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, PP No. 7 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dan PP No.8 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar. Disamping itu, Indonesia telah meratifikasi konvensi CITES tentang perdagangan international species-species tumbuhan dan satwa sejak tahun 1978, namun sampai saat ini perdagangan liar tumbuhan dan satwa yang dilindungi masih saja banyak terjadi tanpa ada kebijakan dan kesepakatan bersama yang jelas antara pihak-pihak terkait.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki segudang potensi alam yang berprospek cerah pada segala bidang. Potensi inilah yang nantinya dimanfaatkan sebagai kunci alternatif strategi perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya yaitu untuk dikembangkan sebagai obyek penunjang dunia pariwisata nasional. Dunia pariwisata menjadi sangat penting karena merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dalam menunjang pergerakan perekonomian di tingkat bawah baik skala daerah maupun nasional. Selain mampu memberi income langsung kepada pemda setempat, sektor pariwisata secara langsung/tak langsung juga memberi imbas pada pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sekitar kawasan obyek wisata. Saat ini pola kepariwisataan domestic maupun mancanegara mulai banyak melirik pada obyek wisata yang menawarkan khasanah keindahan alam yang jauh dari kebisingan kota dan berkesan natural namun tetap menunjukan nilai-nilai pelestarian ekologis. Oleh karena itu, kepariwisataan alam kemudian berkembang munuju pola wisata ekologis yang sering disebut sebagai ecotourism dan wisata minat khusus atau special interest tourism. Kedua pola wisata ini dinilai menjamin tetap terpeliharanya keberadaan obyek dan daya tarik wisata alam pada khususnya.

Salah satu bentuk program alternatif dalam mengembangkan pola wisata ekologis (ecotourism) adalah kegiatan perlindungan anggrek alam sebagai organisme yang terancam punah dan juga habitat tempat hidup anggrek alam. Program ecotourism disini lebih menitikberatkan pada alternative solusi untuk program regenerasi serta rehabilitasi anggrek alam dalam mendukung konservasi anggrek secara langsung. Mengingat status kawasan hutan dan kawasan konservasi secara administrative masuk sebagai wilayah pemerintah daerah serta keadaan sosial ekonomi masyarakat kawasan hutan yang selalu berhubungan langsung dengan permasalahan eksploitasi anggrek alam. Maka konservasi anggrek alam yang dilakukan adalah berbasis masyarakat lokal. Pengembangan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi anggrek ini akan menjadi kelompok yang mandiri dalam pengelolaan pelestarian anggrek diwilayahnya. Perlunya pembentukan Forum Konservasi Aggrek Alam oleh kelompok tani hutan di tiap-tiap wilayah tingkat Kabupaten sebagai awal keterlibatan kelompok tani hutan yang terorganisir dalam upaya pelestarian anggrek alam di tingkat Kabupaten. Kelompok tani hutan inilah yang nantinya berlaku sebagai agen eksploitor anggrek alam yang “legal” dan terkendali. Anggrek alam ini nantinya dikembangkan melalui proses budidaya untuk menjadi komoditas unggulan dalam paket wisata ekologis.

Salah satu komponen penting dalam suksesnya skenario wisata ekologis adalah desain paket wisata itu sendiri. Lingkup wisata ekologis itu sendiri memiliki basis utama pada area dan kawasan alam lainnya, mirip dengan paket wisata alam lainnya. Hanya saja, perlu ada karakteristik tersendiri berupa adanya aktivitas langsung pembelajaran/pendidikan mengenai kelestarian ekologis. Oleh karena itu, paket wisata perlu dikemas se-interaktif mungkin agar pengunjung tidak sekedar memperoleh efek “refreshing” namun juga memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup. Kunci utama dari paket wisata ekologis ini adalah “interaksi”. Yaitu berusaha menciptakan kondisi interaksi aktif (interaktif) antara pengunjung dengan komponen-komponen obyek wisata ekologis yang ada. Berbicara mengenai konsep interaktif, maka dalam aplikasinya paket wisata ini dapat dikemas dengan berbagai aktifitas bertema ecology education termasuk didalamnya tentang konservasi.

Paket wisata ekologis yang ditawarkan berupa:

  • Obyek kawasan konservasi baik in-situ maupun ek-situ yang menyajikan koleksi-koleksi tanaman hutan tahunan dalam desain natural maupun artistic layaknya kebun botani.

  • Kemudian adanya habitat buatan bagi berbagai jenis anggrek alam layaknya “showroom” yang menampilkan dinamisme kehidupan anggrek di habitatnya. Misal showroom anggrek epifit, leafless orchid (anggrek akar), anggrek terrestrial, anggrek litofit, anggrek semi epifit dan sebagainya. Setiap melewati masing-masing showroom, pemandu wisata dapat menjelasakan berbagai hal berkenaan dengan habitat anggrek, pola adaptasinya terhadap lingkungan habitat, mekanisme fisiologis, adaptasi morfologi, sisi botani maupun siklus hidupnya dalam satu tahun. Fungsi pemandu wisata ini dapat digantikan dengan liflet atau audio aktif yang berada di masing-masing showroom.

  • Selain itu dalam kawasan konservasi tersebut perlu dibuat suatu petak-petak khusus sebagai habitat buatan bagi anggrek alam. Petak khusus ini dapat berupa hamparan tanah bermulsa organic sebagai habitat anggrek terrestrial, berupa area dengan pepohonan tahunan sebagai habitat anggrek epifit, atau berupa tumpukan gelondongan kayu lapuk sebagai habitat anggrek semi epifit. Pada tiap-tiap petak inilah para pengunjung secara aktif dapat melakukan penanaman anggrek alam sesuai dengan aturan-aturan yang telah dibuat. Para kelompok tani hutan akan kembali berperan sebagai supplier bibit anggrek alam yang dijual dengan harga standar yang jauh lebih murah daripada harga jual komersial umum. Anggrek inilah yang nantinya yang akan menjadi komoditas utama pada paket wisata ekologis. Anggrek alam yang ditawarkan pada paket wisata ini bukan untuk dibawa pulang oleh pengunjung, melainkan untuk ditanam langsung di kawasan konservasi tersebut. Bahkan aktifitas budidaya anggrek para petani hutan ini dapat juga dijadikan obyek wisata berkenaan dengan proses konservasi itu sendiri.

    Supaya dapat lebih menarik perhatian pengunjung terhadap skenario konservasi ini, maka pada setiap anggrek yang akan ditanam oleh pengunjung, diberikan sebuah label personal antiair yang dapat ditulis nama si pengunjung atau pesan-pesan khusus seperti “I love you”, sebagai ungkapan privasi masing-masing pengunjung serta sebuah kartu ucapan terimakasih sekaligus kartu identitas sebagai masyarakat peduli konservasi anggrek. Label personal ini natinya dicantumkan di tanaman anggrek yang ditanam oleh pengunjung. Sedangkan kartu identitas ini nantinya difungsikan layaknya identitas member suatu komunitas. Sehingga saat pengunjung tersebut datang kembali, maka dia akan memperoleh perlakuan khusus dan akan merasa bangga karena label personal tersebut tetap melekat pada anggrek yang menjadi tontonan pengunjung-pengunjung lainnya. Tentu saja interaksi yang diharapkan tidak hanya sampai pada proses penanaman, namun hingga proses pemeliharaan pun diharapkan turut berinteraksi, misal dengan melakukan penyemprotan pupuk atau air, sehingga muncul rasa memiliki, menjaga dan menghargai, yang berbuah rasa kebanggaan pribadi apabila tanaman anggrek yang dipeliharanya tumbuh baik, karena disitu terdapat symbol identitas pribadi sebagai alat pengakuan sosial.

Dengan scenario konservasi yang melibatkan interaksi langsung dari pengunjung, diharapkan terjadi suatu pembelajaran nilai-nilai penghargaan ekologis serta pemahaman langsung terhadap makna konservasi kepada para pengunjung. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari Grand-design dari paket wisata ekologis dibanding wisata alam lainnya. Grand-design paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan sebagai upaya penyelamatan anggrek alam tanpa merugikan masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi (kelompok tani hutan). Bentuk wisata ekologi ini diharapkan pula dapat memberikan alternative pendapatan lainnya kepada masyarakat yaitu sebagai jasa pemandu wisata, penginapan, anggrek alam sebagai cinderamata dll. Bentuk wisata ekologis ini akan bertahan dan terjamin keberlanjutannya apabila kawasan konservasi tersebut tidak terdesak untuk kepentingan lain. Untuk mendukung itu, instansi terkait dan masyarakat luas baik melalui LSM atau forum-forum swadaya diharapkan dapat memfasilitasi segala upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong terciptanya wisata terbatas sebagai alternative yang dapat menjamin terpeliharanya kehidupan anggrek alam yang selaras dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan fungsi kawasan konservasi dalam paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan terus dilakukan agar terdapat banyak jalur pilihan bagi para pengunjung. Demikian sekilas pemikiran dari penulis mengenai langkah-langkah alternative yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi kehidupan anggrek alam yang tentu saja banyak kekurangan disana-sini serta ha-hal lainl yang perlu dikembangkan lebih lanjut sesuai karakteristik wilayah masing-masing daerah.

salam konservasi!!
by Destario Metusala 07

Anggrek…obat stress atau biang stress??!

Saturday, February 3rd, 2007

paphio tercinta
Gambar oleh Destario Metusala 07

Please give your comment….thanks!! ^_^

Kutu Gajah si Bikin Onar

Friday, February 2nd, 2007

kutuna guajah
Gambar oleh Andi Wijaya 07

Hama yang satu ini dikenal luas dengan sebutan kutu gajah. Padahal dia punya nama beken yaitu Orchidophilus atterimus. Hama ini punya selera yang cukup luas terhadap keluarga Orchidaceae seperti Dendrobium, Vanda, Phalaenopsis, Renanthera, Angraecum, Saccolobium, Cymbidium, Spathoglottis dll. Hama ini berbentuk menyerupai kutu beras, namun ukurannya cukup besar dengan panjang tubuh mencapai 1 cm. Kutu ini memiliki moncong yang panjang dan melengkung layaknya belalai gajah, itulah kenapa dia sering disebut sebagai kutu gajah.

Hama ini menyerang jaringan baik pada daun, batang semu (bulb), dan akar muda. Hama betina dewasa seringkali membuat lubang pada batang anggrek untuk meletakkan telurnya. Saat telur menetas maka lahirlah larva yang akan menggerogoti batang anggrek dari dalam. Pada saat itu, tanaman anggrek akan berhenti tumbuh, daun nampak pucat kekuningan dan diikuti dengan kerontokan daun apabila serangan bertambah parah. Hal ini karena larva didalam batang anggrek telah memutus jaringan pengangkut batang, sehingga air, unsur hara dan cadangan makanan tidak dapat tersalurkan kebagian tanaman lainnya.

Kutu gajah dapat meletakkan telurnya didalam batang semu, di daun, dan di ketiak daun anggrek. Pada percobaan skala laboratorium, telur kutu gajah akan menetas dalam 11 hari. Kemudian masuk pada fase larva selama kurang lebih 4 bulan dan dilanjutkan fase kepompong yang membutuhkan waktu sekitar 16 hari. Setelah menjadi hama dewasa, kutu ini mampu hidup antara 9 hingga 12 bulan lamanya. Hama dewasa biasanya aktif pada saat pergantian musim kemarau ke musim hujan.

Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan cara mekanis yaitu memunguti hama ini secara manual dengan tangan kemudian membunuhnya, atau secara kimiawi dengan insektisida sistemik apabila terdapat gejala serangan dari dalam. Untuk langkah preventif dapat menggunakan insektisida kontak berbahan aktif organophosphat atau pyrethroid maupun menjaga kebersihan media tanam dan kebun. Peringatan dari saya yaitu gunakanlah insectisida pada dosis anjuran serta diselang seling dengan bahan aktif yang berbeda agar mengurangi resiko resistensi hama serta meminimalkan pencemaran lingkungan berlebih.

Coelogyne celebensis si Jelita dari Celebes

Friday, February 2nd, 2007

Coelogyne celebensis
Gambar oleh Destario Metusala 07

Anggrek ini memiliki nama ilmiah Coelogyne celebensis. Kata celebensis diambil dari nama Celebes atau Sulawesi. Dari namanya, kita tahu jika tanaman ini memiliki habitat asal di Sulawesi. Morfologi tanamannya sekilas nampak serupa dengan kerabat dekatnya Coleogyne speciosa. Bahkan tipe bunga nya pun tampak tak ada beda. Namun bagi yang jeli, perbedaan yang cukup mencolok dapat dikenali lewat bentuk labellum serta tonjolan-tonjolan yang berada diatas labellum tersebut. Bunga ini mampu merekah sempurna selama 5-7 hari, setelah itu bunga akan layu dan segera digantikan dengan tunas bunga selanjutnya. Tandan bunganya berukuran kecil dan panjang, sehingga tidak proporsional jika dibandingkan dengan ukuran bunganya yang cukup besar. Itulah sebabnya, saat bunga nya mekar, maka tandannya akan terkulai kebawah, sehingga bunganya tampak menunduk. Anggrek ini memiliki daun yang lebar, berbentuk bulat telur, dan permukaannya bergelombang. Seperti kebanyakan anggrek lainnya, tanaman ini juga memiliki bulb/umbi semu yg menggembung untuk menyimpan air dan cadangan makanan. Anggrek ini termasuk anggrek dataran rendah yang rajin berbunga dan cepat beradaptasi.