Archive for March, 2007

Dendrobium Fatahillah (local hybrid)

Wednesday, March 28th, 2007

D.fatahillah
Gambar oleh Rakhmat Fitriawan 2007

Paphiopedilum chamberlainianum

Monday, March 26th, 2007

Pahiopedilum chamberlainianum
Gambar oleh Rakhmat Fitriawan 07

Phragmipedium pearcei

Monday, March 26th, 2007

Phragmipedium pearcei
Gambar oleh Rakhmat Fitriawan 07

Dendrobium affine

Monday, March 26th, 2007

Dendrobium affine
Gambar oleh Rakhmat Fitriawan 07

Anggrek Spathoglottis Varietas Bintang Segunung

Sunday, March 25th, 2007

SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 506Kpts/PD.210/10/2003

TENTANG

PELEPASAN BUNGA ANGGREK SPATHOGLOTTIS KSP-1904-1
SEBAGAI VARIETAS UNGGUL DENGAN NAMA
BINTANG SEGUNUNG

DESKRIPSI BUNGA ANGGREK SPATHOGLOTTIS VARIETAS
BINTANG SEGUNUNG

Nomor klon : KSP-1904-1
Persilangan : Spatthoglottis aurea (S019) dan Spathoglottis plicata (S004S)
Umur tanaman : 3 tahun
Tipe pertumbuhan : sympodial
Bentuk ujung daun : acuminate
Penampang melintang daun : plicate
Ukuran daun : panjang 44 - 88,2 cm, lebar 8,1 - 10,4 cm
Warna daun : yellow green group 146A, 146B
Bentuk bunga : bundar
Bentuk sepal dorsal : elip
Warna sepal dorsal : yellow group 8D, purple violet group 82C
Bentuk sepal lateral : elip
Warna sepal lateral : yellow group 8D, purple violet group 82C
Bentuk petal : elip
Warna petal : yellow group 8D, purple group 78A
Tipe callus / bibir : complex
Warna bibir : yellow group 9A, red purple group 59B, purple group 78A
Warna calli : yellow group 9A, red purple group 59B
Posisi pembungaan : basal
Arah menghadap bunga : segala arah
Mekar bunga : non flat
Corak bunga : splash
Perpuntiran / resupinate : ada
Panjang tangkai bunga : 73 cm
Diameter tangkai bunga : 0,4 - 0,6 cm
Panjang rachis : 25 cm
Lebar lbunga : 6 cm
Panjang braktea : 1,7 cm
Jumlah bunga pertangkai : 56 kuntum
Ketahanan mekar bunga : 3 hari
Keterangan : cocok untuk ditanam pada dataran tinggi sesuai untuk tanaman taman.
Pengusul/Peneliti : BALITHI Segunung / Yoyo Sulyo, Suskanari Kartikaningrum, Yayuk A. Bety, Fitri Rachmawati, Laily Qodriyah, Sri Rianawat.

Gambar dan Info lain : http://www.pustaka-deptan.go.id/publication/wr28306j.pdf

Anggrek Spathoglottis Varietas Bintang Merah Putih

Sunday, March 25th, 2007

SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 504/Kpts/PD.210/10/2003

TENTANG

PELEPASAN BUNGA ANGGREK SPATHOGLOTTIS KSP-1904-7
SEBAGAI VARIETAS UNGGUL DENGAN NAMA
BINTANG MERAH PUTIH

DESKRIPSI BUNGA ANGGREK SPATHOGLOTTIS VARIETAS
BINTANG MERAH PUTIH

Nomor klon : KSP-1904-7
Persilangan : Spatthoglottis aurea (S019) dan Spathoglottis plicata (S004S)
Umur tanaman : 3 tahun
Tipe pertumbuhan : sympodial
Bentuk ujung daun : acuminate
Penampang melintang daun : plicate
Ukuran daun : panjang 575 - 62 cm, lebar 9,2 - 9,4 cm
Warna daun : yellow green group 146A
Bentuk bunga : bintang
Bentuk sepal dorsal : elip
Warna sepal dorsal : green yellow group 1D
Bentuk sepal lateral : elip
Warna sepal lateral : green yellow group 1D
Bentuk petal : elip
Warna petal : green yellow group 1D
Tipe callus / bibir : complex
Warna bibir : red purple group 71A
Warna calli : yellow group 71A
Posisi pembungaan : basal
Arah menghadap bunga : segala arah
Mekar bunga : flat
Corak bunga : polos
Perpuntiran / resupinate : ada
Panjang tangkai bunga : 50 - 53 cm
Diameter tangkai bunga : 0,3 cm
Panjang rachis : 15 cm
Lebar lbunga : 6 cm
Panjang braktea : 1,7 cm
Jumlah bunga pertangkai : 56 kuntum
Ketahanan mekar bunga : 3 hari
Keterangan : cocok untuk ditanam pada dataran tinggi sesuai untuk tanaman pot.
Pengusul/Peneliti : BALITHI Segunung / Yoyo Sulyo, Suskanari Kartikaningrum, Yayuk A. Bety, Fitri Rachmawati, Laily Qodriyah, Sri Rianawat.

Gambar dan Info lain : http://www.pustaka-deptan.go.id/publication/wr28306j.pdf

Si Raja Tanduk dari Papua

Tuesday, March 20th, 2007

D.sutiknoi (Nik Fahmi)
Picture created by Nik Fahmi 2007 : Vortex’s Orchids (http://zanaf. dyndns.biz)

D.sutiknoi (Nik Fahmi)
Picture created by Nik Fahmi 2007 : Vortex’s Orchids (http://zanaf. dyndns.biz)

Begitulah sebutan bagi anggrek yang memiliki nama latin Dendrobium sutiknoi P.O’bryne. Anggrek ini dideskripsikan dan dipublikasikan untuk pertama kali pada Mei 2005 di Jurnal fur den Orchideenfreund. Nama sutikno ini sendiri diambil dari nama seorang hobiis dan pedagang anggrek di Tretes, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur yang kemudian dideskripsikan untuk pertama kali oleh Mr. Peter O’bryne di Singapura. Sejarahnya, ternyata anggrek ini ditemukan secara tidak sengaja oleh beliau di antara batang-batang D. lasianthera, namun tiba saat berbunga tampaklah perbedaan tersebut. Oleh karena karakter bunganya yang unik maka beliau yakin bahwa anggrek ini berpotensi menjadi species baru.

Species ini berasal dari Papua dan Kepulauan Morotai (Indonesia). Sejauh ini telah ditemukan dua varian warna, yaitu oranye tembaga dan hijau kekuningan. Sosok tanamannya mirip dengan anggrek-anggrek section Spatulata lainnya. Batangnya cukup tinggi mencapai 1-1,5 meter. Bentuk daunnya elips agak bulat telur, semakin kearah ujung atas ukuran daunnya semakin mengecil. Karakter unik dari anggrek ini adalah petal nya yang sangat panjang (mirip petal D.stratiotes) serta bentuk ujung labellumnya yang sempit dan melengkung dan hampir menyerupai labellum Dendrobium tobaense. Kelebihan anggrek section Spatulata ini adalah sifat dominan nya yang sangat kuat pada hybrid-hybrid keturunannya. Tidak seperti pada D.tobaense yang bentuk labellumnya bersifat resesif sehingga akan mudah terdegradasi oleh hybridisasi.

Saat ini, hybrid-hybrid maupun hasil selfing dari D.sutiknoi telah banyak beredar di pasaran anggrek di Asia tenggara. Namun menurut informasi dari seorang rekan hobiis senior dari Malaysia, setelah sekian lama D.sutiknoi dimanfaatkan sebagai parent/induk silangan, ternyata anggrek ini kurang begitu diminati oleh para penyilang sebagai parent karena sifatnya genetiknya yang sangat dominan, sehingga selalu mengalahkan karakter dari induknya yang lain, akibatnya hybrid yang terbentuk juga terlalu condong ke arah karakteristik D.sutiknoi. Namun hal ini tidak begitu dipersoalkan oleh para penggemar dan konsumen anggrek hybrid, sehingga tidak mengurangi minat para penggemar anggrek pada umumnya untuk tetap mengkoleksi hybrid-hybrid turunan D.sutiknoi, karena tetap saja hybridnya cantik dan unik dipandang. Di Indonesia sendiri, anggrek ini maupun hybridnya belum begitu tersosialisasi secara luas, sehingga tak heran bila harganya melambung sangat tinggi.

Meskipun demikian, anggrek ini merupakan harta genetis yang tak ternilai. Sehingga langkah-langkah serius untuk menjaga kelestarian genetisnya perlu segera dilakukan.

by Destario Metusala 2007
Thanks to Mr. Nik Fahmi for his picture and the information, also thanks to Mr. Peter O’bryne ^_^!!

Varian Dendrobium discolor dari pulau Tanimbar

Sunday, March 4th, 2007

discolor var tanimbar
Gambar oleh Destario Metusala 07

Isolasi oleh bentang geografis dapat menyebabkan perubahan pada morfologi suatu mahluk hidup untuk beradaptasi sesuai dengan lingkungan tumbuhnya. Teori ini sekaligus menjelaskan munculnya berbagai variasi pada anggrek terlebih bila penyebarannya meliputi kawasan yang luas dengan tipe karakter alam yang berbeda secara signifikan. Varian Dendrobium discolor yang ditemukan di pulau tanimbar sekitar 2 tahun yang lalu agak sedikit berbeda dengan varian pada umumnya yang ditemukan di daratan papua. Tak heran…pulau Tanimbar berada sekitar 800 km arah barat dari titik habitat D.discolor yang umum ditemukan, sehingga tak mengejutkan bila ditemukan sedikit perbedaan pada organ-organ bunganya. Organ sepal nya mengalami sedikit pemanjangan, juga ukuran ujung labellum yang sedikit melebar. Bentuk callus bagian tengah yang lebih menonjol dan melengkung layaknya “taring” merupakan ciri khas dari species D.dsicolor. Belum ada publikasi ilmiah resmi mengenai varian ini. Untuk itu, sementara ini anggrek tersebut dapat disebut sebagai Dendrobium discolor var. tanimbar

by. Metusala 07

Pohon Anggrek Terbesar dan Terberat di Dunia

Thursday, March 1st, 2007

Grammatophyllum speciosum
Gambar oleh Destario Metusala 2007

Ini dia si jawara kelas berat dari dunia anggrek. Jawara ini bernama Grammatophyllum speciosum atau seringpula disebut-sebut dengan nama G. papuanum yang diyakini sebagai salah satu variannya. Tanaman ini tersebar luas dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Papua. Oleh karena itu, tidak heran bila banyak ditemukan varian-varian nya dengan bentuk tanaman dan corak bunga yang sedikit berbeda. Dalam satu rumpun dewasa, tanaman ini dapat mencapai berat lebih dari 1 ton dan panjang malai bunga hingga 3 meter dengan diameter malai sekitar 1,5-2 cm. Itulah sebabnya malai bunganya mampu menyangga puluhan kuntum bunga berdiameter 7-10 cm. Dari corak bunganya…penduduk lokal sering menjulukinya dengan sebutan anggrek macan…akan tetapi sebutan ini sering rancu dengan kerabatnya, Grammatophyllum scriptum yang memiliki corak serupa. Oleh sebab itu, anggrek ini populer juga dengan sebutan sebagai anggrek tebu, karena sosok batang tanamannya yang menyerupai batang pohon tebu. Meskipun persebarannya cukup luas…anggrek ini justru menghadapi ancaman serius dari perburuan tak terkendali serta kerusakan habitat. Sosok pohonnya yang sangat besar mudah terlihat oleh para pemburu, terlebih lagi saat memunculkan bunganya yang mencolok. Belum lagi perkembangbiakan alami di habitat dengan biji sangatlah sulit diandalkan karena lambatnya laju pertumbuhan dari fase biji hingga mencapai tanaman dewasa yang siap berbunga. Mungkin hal inilah yang mendasari kenapa anggrek ini menjadi salah satu species anggrek yang dilindungi.

Sebagai pecinta anggrek, pasti anggrek ini akan menjadi salah satu “most wanted” dalam daftar koleksi. Agar perburuan liar terhadap anggrek ini di habitatnya dapat dikendalikan, maka langkah-langkah budidaya secara vegetatif maupun generatif harus segera diberdayakan. Apalagi anggrek ini terkenal sangat mudah menumbuhkan tunas dari stek bulbnya. Setidaknya, dengan membudidayakannya secara vegetatif atau membeli bibit anggrek tebu hasil perkembangbiakan vegetatif (tunas dari stek bulb) dapat menjadi salah satu upaya memelihara kelestarian anggrek alam Indonesia.