Botany Category

Anggrek Indonesia Kalahkan Rekor Anggrek “Terkecil di Dunia” dari Ekuador

Sunday, March 27th, 2011

Benarkah Platystele sp dari Ekuador adalah yang terkecil?
Pada akhir 2009 yang lalu dunia peranggrekan dunia diramaikan dengan pemberitaan internasional tentang penemuan anggrek berukuran paling kecil di dunia. Lou Jost, peneliti amerika telah menemukan anggrek mini di Ekuador yang kemudian diklaim oleh media internasional sebagai anggrek terkecil didunia. Anggrek dari genus Platystele tersebut memiliki ukuran melintang 2-2,1 mm. Apabila ukuran 2 mm diklaim sebagai ukuran anggrek terkecil di dunia, maka sebenarnya Indonesia memiliki anggrek dengan ukuran yang lebih kecil.

Anggrek mini yang misterius
Anggrek super mini dari genus Oberonia sp ini memiliki ukuran melintang 1,1-1,5 mm yang didapatkan langsung dari sebuah eksplorasi di kepulauan Mentawai pada awal 2010. Anggrek dari genus Oberonia sp ini memiliki bunga berwarna jingga terang dan dalam satu rangkaian perbungaan disusun atas ratusan kuntum bunga yang tersusun teratur dalam pola spiral.

Hingga artikel ini dimunculkan, identitas hingga tingkat spesies masih belum diketahui, hal ini selain karena ukuran mini-nya yang cukup mempersulit dalam proses identifikasi, juga dikarenakan informasi genus Oberonia di kawasan Malesiana masih belum terdata dengan baik.

Genus yang minim perhatian
Literatur dan specimen herbarium yang diperlukan untuk acuan identifikasi harus digali dari herbaria di Inggris dan Leiden, mengingat literatur dan record herbarium anggrek di herbaria Indonesia masih sangat terbatas sekali. Literatur tentang spesies-spesies genus Oberonia didominasi publikasi jurnal terbitan pertengahan tahun 1800-an hingga awal 1900.

Puluhan tahun setelah itu, nyaris tidak pernah ada publikasi terkait genus ini. Hingga akhirnya pada tahun 1997 muncul publikasi tentang transfer sebuah anggrek spesies dari Nepal yang dahulunya pernah dipublikasi pada tahun 1825 dengan nama Stelis mucronata dan sekarang ditransfer untuk masuk kedalam genus Oberonia, menjadi Oberonia mucronata. Sedangkan publikasi signifikan lainnya yaitu penemuan satu spesies baru Oberonia ensifolia dari Sumatera (Indonesia) oleh J.B.Comber, seorang taksonom berkebangsaan Inggris, pada tahun 2001.

Sebagai tambahan informasi, bahwa genus Oberonia umumnya memang memiliki bunga dengan ukuran miniatur, karena alasan itu pula anggrek dari genus ini kurang memiliki nilai komersial dikalangan para penggemar anggrek bahkan peneliti sekalipun. Itulah sebabnya sejak dahulu belum ada peneliti dunia yang berhasil melakukan revisi genus Oberonia di Indonesia atau bahkan di kawasan Malesiana dengan sukses, mengingat jumlah spesies di kawasan ini cukup melimpah.

Meskipun demikian, dari sudut pandang botani anggrek ini memiliki nilai pengetahuan yang tak ternilai. Sangat tidak menutup kemungkinan akan ditemukan anggrek dengan ukuran yang lebih kecil dari belantara Indonesia, mengingat masih banyak spesies Oberonia di Indonesia yang belum diteliti lebih jauh.

Dengan demikian dapat diklarifikasi bahwa untuk sementara, rekor anggrek terkecil di dunia yang dipegang oleh anggrek dari Ekuador telah dikalahkan oleh anggrek Oberonia sp dari kepulauan Mentawai. Namun perlu dicatat bahwa saya tidak dalam posisi untuk mengklaim Oberonia sp ini sebagai anggrek yang terkecil di dunia, karena hal ini perlu kajian ilmiah lebih menyeluruh terhadap seluruh spesies dari genus Oberonia. Tapi paling tidak sementara ini kita dapat berbangga karena anggrek Indonesia telah menggeser posisi anggrek dari Ekuador yang sebelumnya diklaim sebagai anggrek paling kecil di dunia.

Salam Anggrek,
Destario Metusala (2010)

Link terkait
Blog LIPI-Bunga Anggrek Terkecil Dari Indonesia
Platystele sp, The World’s Smallest Orchid Discovered (By Accident) —National Geographic

Vanda insignis

Thursday, April 26th, 2007

Vanda insignisnya rio
By. Destario Metusala 07

Adalah salah satu keluarga Vanda species lokal Indonesia yang keberadaannya cukup jarang dijumpai di nurseri-nurseri anggrek. Bunga nya memiliki keunikan berupa bentuk labellumnya yang lebar dan cekung menyerupai sendok. Kelebihan lain anggrek ini adalah aroma harum khas yang ditebarkan sepanjang hari. Anehnya, keunikan bentuk labellumnya ini bersifat resesif, sehingga tidak bisa muncul di Vanda hybrid keturunannya. Itulah sebabnya Vanda insignis memiliki nilai botanis, estetis dan ekonomis yang sulit ditandingi oleh anggrek kerabat Vanda lainnya. Anggrek ini toleran untuk ditanam di daerah dataran rendah. Tipe perakarannya cukup menyukai media seperti potongan pakis, arang ataupun kulit kayu.

Varian Dendrobium discolor dari pulau Tanimbar

Sunday, March 4th, 2007

discolor var tanimbar
Gambar oleh Destario Metusala 07

Isolasi oleh bentang geografis dapat menyebabkan perubahan pada morfologi suatu mahluk hidup untuk beradaptasi sesuai dengan lingkungan tumbuhnya. Teori ini sekaligus menjelaskan munculnya berbagai variasi pada anggrek terlebih bila penyebarannya meliputi kawasan yang luas dengan tipe karakter alam yang berbeda secara signifikan. Varian Dendrobium discolor yang ditemukan di pulau tanimbar sekitar 2 tahun yang lalu agak sedikit berbeda dengan varian pada umumnya yang ditemukan di daratan papua. Tak heran…pulau Tanimbar berada sekitar 800 km arah barat dari titik habitat D.discolor yang umum ditemukan, sehingga tak mengejutkan bila ditemukan sedikit perbedaan pada organ-organ bunganya. Organ sepal nya mengalami sedikit pemanjangan, juga ukuran ujung labellum yang sedikit melebar. Bentuk callus bagian tengah yang lebih menonjol dan melengkung layaknya “taring” merupakan ciri khas dari species D.dsicolor. Belum ada publikasi ilmiah resmi mengenai varian ini. Untuk itu, sementara ini anggrek tersebut dapat disebut sebagai Dendrobium discolor var. tanimbar

by. Metusala 07

Anatomi daun Paphiopedilum liemianum

Tuesday, December 26th, 2006

stomata
Gambar diambil dari www.emfa.org hanya sebagai ilustrasi bentuk stomata. Stomata diatas bukanlah stomata tanaman Paphiopedilum liemianum.

Hasil pengamatan mikroskopik yang dilakukan penulis pada daun Paphiopedilum liemianum mengungkapkan bahwa :

Permukaan daun bagian atas memiliki selapis jaringan pelindung (jaringan epidermis) yang tebal dan tidak mengandung klorofil. Pada lapisan epidermis ini terdiri atas sel-sel berukuran besar yang rapat dengan dinding sel yang tebal, serta tidak ditemukan adanya stomata. Lapisan epidermis bagian atas memiliki penebalan lapisan lilin atau semacam kutikula sebagai pelidung kedap air. Stomata hanya ditemukan tersebar pada permukaan daun bagian bawah.

Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa anggrek ini memodifikasi jaringan daunnya untuk menekan penguapan berlebih melalui daun. Permukaan daun bagian atas yang terpapar sinar matahari langsung tidak memiliki stomata, sehingga lapisan pelindung ini berfungsi sebagai filter radiasi sekaligus penahan air pada jaringan dibawahnya supaya tidak menguap melalui permukaan atas daun. Sifat efisiensi air ini menunjukkan bahwa tanaman ini cendrung menyukai habitat yang cukup lembab sekaligus merancang tubuhnya untuk toleran terhadap kekeringan. Dengan kondisi demikian anggrek ini justru sangat peka terhadap kondisi kelembaban yang berlebih karena akan mengalami hambatan untuk melakukan transpirasi (penguapan) thd air yg berlebih di dalam jaringannya maupun dilingkungan sekitar akar. Hal ini karena persebaran stomata yang hanya ada di bagian bawah daun, sehingga laju transpirasi melalui stomata tidak sebanding dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi. Stomata pada permukaan bawah daun hanya optimal untuk kegiatan transpirasi, serta respirasi (pernafasan). Sehingga aplikasi pupuk ke organ daun dianggap sama sekali tidak efektif dan efisien untuk jenis anggrek ini. Aplikasi pupuk cair dan padat disarankan untuk diaplikasikan melalui media perakaran.

Salam anggrek,
Destario Metusala

Protected: D.crumenatum Discussion

Sunday, December 17th, 2006

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Dendrobium sagittatum J.J.Sm

Wednesday, November 1st, 2006

dendrobium sagittatum
by Destario Metusala 06

Dendrobium sp

Thursday, October 26th, 2006

sketch
by Destario Metusala 06