Konservasi Category

Anggrek Langka, Anggrekku Sayang, Anggrekku Malang

Wednesday, July 30th, 2008

Anggrek yang saat ini masih bertengger sebagai jawaranya bunga yang paling beraneka-ragam manjadi aset tersendiri bagi bangsa Indonesia. Anggrek spesies adalah harta kekayaan yang berpotensi luar biasa. Sebagai harta kekayaan, tentu memberi konsekuensi tertentu bagi si empunya, dalam kasus ini seluruh bangsa Indonesia, khususnya masyarakat penggemar anggrek yang tentu lebih banyak mengetahui anggrek dibanding masyarakat biasa yang masih awam.

Bangsa yang memiliki harta tak ternilai tentu mempunyai banyak pilihan, apakah kita akan menjadi bangsa yang memberi harta penting nya secara cuma-cuma kepada siapapun??! Bahkan harta yang belum sama sekali kita manfaatkan?! Tentu akan sangat merugi. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang kaya akan harta, tapi justru kebingungan oleh harta tersebut. Oleh karena itu, dalam mengoptimalkan harta karun anggrek negara ini ada beberapa point penting, antara lain:

1. Mengenali anggrek sebagai harta berharga,
hal ini menjadi sangat mendasar karena berkaitan dengan pemahaman kita terhadap pentingnya potensi yang dimiliki anggrek misal sebagai tanaman hias, bunga potong, obat, parfume, koleksi langka, kerajinan dll. Bagaimana kita bisa memanfaatkan sesuatu kalo tidak sadar bahwa sesuatu tadi berharga dan bernilai tinggi?? Itu sama saja seperti tikus yang mati kelaparan di dalam lumbung padi, si tikus tidak menyadari bahwa padi di sekitarnya adalah makanan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang pengenalan jenis anggrek dan pemanfaatannya mutlak terus dikembangkan. Langkah rielnya : banyak membaca literatur anggrek mengenai jenis-jenisnya, potensi yang dimiliki anggrek tersebut (warna, bentuk tanaman, lama mekar, aroma, khasiat obat dll), atau sharing di milis atau forum anggrek untuk memperoleh pengetahuan dasar atau lanjut tentang anggrek spesies Indonesia, mendukung dan membantu suksesnya penelitian tentang anggrek Indonesia.

2. Menjaga anggrek sebagai harta berharga,
tahap selanjutnya setelah kita menyadari tentang nilai penting anggrek adalah upaya untuk menjaganya agar tidak habis atau malah hilang. Menjaga agar tidak habis atau hilang dalam hal ini bukan hanya berarti segi keamanan dari faktor luar seperti ”pencurian”. Tetapi juga terhadap kemanan terhadap jumlahnya atau dengan kata lain upaya untuk menjaga jumlah harta kita agar tidak mudah habis atau hilang. Bisa saja, meskipun anggrek tersebut benar-benar aman dari pencurian pihak negara asing, tapi justru habis karena terlalu over dieksploitasi oleh si pemiliknya tanpa memperhatikan keberlanjutannya kedepan. Sehingga, sebagai bangsa Indonesia yang pintar dan mencintai tanah airnya, kita harus tegas untuk menjaga anggrek spesies langka negeri ini dari rayuan bangsa lain yang hanya mau enaknya sendiri. Kita yang pontang-panting dan susah payah melestarikan, memelihara agar lestari di alam maupun di ek-situ tapi dengan enaknya bangsa lain mengambil anggrek langka kita dan mengembangkannya menjadi hibrida-hibrida unggul untuk memperkaya negara mereka. Stop perdagangan ilegal anggrek langka ke negara lain. Imbalan besar yang diiming-imingkan tidak setimpal dengan potensi anggrek tersebut ke depan. Begitu kita menjual anggrek langka keluar negeri secara ilegal, maka kita sama saja memberikan pusaka kita, begitu mereka telah mengembangkannya secara masal, maka habislah kejayaan dan daya tarik khas anggrek kita. Oleh karena itu, pilih varian terbaik dari setiap jenis anggrek dan jadikan indukan untuk perbanyakan…namun jangan sekali-kali menjual keluar negeri indukan pilihan tersebut. Tunjukkan bahwa kita adalah hobiis yang Indonesia banget alias ber nasionalisme tinggi. Langkah rielnya : Stop menjual keluar negeri anggrek langka (apalagi yang dilindungi) yang belum diteliti dan dikembangkan secara optimal oleh bangsa kita, pendataan anggrek koleksi, memelihara anggrek yang telah dimiliki dengan sebaik-baiknya, menolak anggrek cabutan langsung yang belum dipelihara/dibudidayakan, penyerbukan bunga untuk memperoleh buah, memperbanyakan anggrek langka baik secara manual atau melalui kultur biji dan jaringan, relokasi anggrek langka ke habitatnya, meminimalkan eksploitasi anggrek dari habitatnya secara berlebih, tidak anti dengan anggrek spesies hasil kultur jaringan, menjaga kelestarian habitat anggrek dan banyak lainnya. Meskipun nampaknya sangat ketat, namun anggrek langka atau yang dilindungi tetap diperkenankan keluar negeri untuk kepentingan penelitian atau kepentingan khusus lainnya dan tetap harus melalui jalur legal sesuai peraturan yang ada. Memang terdengarnya idealis sekali ya….tapi tunggu dulu…baca point berikutnya.

3. Memanfaatkan anggrek sebagai harta,
tentu sangat amat percuma sekali kalau kita sudah sadar bahwa kita memiliki harta bernilai, lalu kita juga sudah menjaganya dengan baik, tapi kita tidak bisa memanfaatkannya sama sekali…itu mubazir namanya. Ibarat kita mengetahui ada banyak sayuran tumbuh di halaman yang bisa dimasak menjadi masakan lezat, kemudian setiap hari kita siram, dipupuk dan diperbanyak, tapi sayuran yang telah dewasa hanya dibiarkan saja, lebih parah lagi kita hanya bisa melihat sayuran tadi tua-membusuk dengan tatapan kosong sambil gigit jari dan berkata dalam hati (kasian deh gua…). Kita hindari menjadi bangsa yang hanya bisa phobia atau ketakutan berlebih, sehingga selamanya kita hanya bisa memeluk erat harta agar tidak dicuri orang, tapi justru tidak pernah sempat untuk menggunakan hartanya. Upaya pemanfaatan potensi yang dimiliki anggrek khususnya anggrek langka merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Bangsa ini hanya akan stagnan bila selamanya tidak bisa memanfaatkan potensi SDA nya secara optimal. Langkah rielnya antara lain, menjual secara luas anggrek hasil perbanyakan budidaya, mengembangkan bisnis bunga anggrek potong, memperomosikan anggrek hasil kultur jaringan keluar negeri, melakukan hibridisasi untuk menghasilkan anggrek-anggrek hibrida unggul, mengajukan hak perlindungan varietas terhadap anggrek spesies lokal atau hasil pemuliaan, mengekstrak anggrek untuk memperoleh senyawa obat atau senyawa penting lainnya, menanami pekarangan dengan anggrek-anggrek yang berbunga menawan, atau menjadikan anggrek sebagai bunga penyambutan bagi turis-turis asing atau malah menukar pesawat jet sukhoi dengan 20.000 karung anggrek hibrida. Bahkan anggrek paling langka yang hanya ada setengah, dimuka bumi sekalipun bisa dijual bebas apabila telah dilakukan penelitian optimal, perbanyakan massal dan memperoleh ijin/legalisasi dari pihak berwenang.

Toh meskipun kita belum sehebat bu Menkes Siti Fadilah Supari, tapi setidaknya kita memiliki semangat yang sama seperti yang beliau perjuangkan….tetep ikut bangga dong. Kapan ya, bisa kasih nama anggrek ke beliau…., atau minimal kasih beliau anggrek istimewa -_-!! phUuu Jadi fuying

by. Destario Metusala (2008) ^^

Pelestarian anggrek yang dimulai dari hal-hal kecil

Saturday, April 5th, 2008

Anggrek, namanya begitu pendek dan sederhana….hanya terdiri dari 7 huruf saja. Tapi kisahnya tak sependek namanya, dan permasalahan pelestariannya tidak sesederhana namanya. (more…)

Relokasi Anggrek Species Merapi, Kolaborasi HMJ Agronomi UPN “Veteran” Jogja dengan Taman Nasional Gunung Merapi

Wednesday, July 18th, 2007

Sudah saatnya gerakan rehabilitasi dan pelestarian anggrek baik ek-situ maupun in-situ dilakukan secara gotong-royong tanpa harus bergantung pada program pemerintah. Masyarakat dianjurkan dapat berperan mandiri sebagai pelaku utama dalam kegiatan konservasi anggrek dengan koordinasi pihak-pihak terkait, sehingga “rasa memiliki” keanekaragaman hayati tidak hanya terbatas untuk instansi pemerintah saja…namun lebih utama yaitu pada masyarakat luas. Salah satu upaya nyata dalam mewujudkan Grand Design konservasi berkelanjutan yang dalam hal ini menjadikan Taman nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagai Biodiversity Research Center khususnya anggrek species adalah dengan melakukan relokasi anggrek species lereng selatan Merapi. Kegiatan ini kerjasama antara HMUJ Agronomi UPN “Veteran” Jogja dengan pihak Taman Nasional Gunung Merapi. Relokasi anggrek species Merapi ini bertujuan untuk mengembalikan anggrek-anggrek lereng selatan Merapi yang telah dibudidayakan masyarakat ke habitatnya di wilayah konservasi Tlogo Putri. Dari program relokasi ini diharapkan muncul interaksi sinergis untuk melangkah ke strategi konservasi selanjutnya. Kegiatan relokasi ini dilakukan Sejak 18-07-07 hingga 21-07-07.

vanda tricolor
By Bima, Fajar dan Rio 07

Vanda tricolor
By Bima, Fajar, Rio 07

Bunga
By Bima, Fajar, Rio 07

perbanyakan Vanda tricolor
By Bima, Fajar, Rio 07

Article by Destario Metusala 07

Wisata Ekologis Interaktif sebagai Alternatif Konservasi Anggrek Berbasis Pariwisata

Sunday, February 4th, 2007

hutan
Gambar diambil dari www.ditjenphka.go.id

Permasalahan yang dihadapi dalam pelestarian flora khususnya anggrek alam di Indonesia kian hari semakin bertambah komplek, bukan hanya karena semakin menyempit dan rusaknya habitat, namun juga karena bentuk-bentuk eksploitasi tak bertanggung jawab seperti perdagangan anggrek alam tak terkendali. Dengan berbagai permasalahan tersebut, tak elak lagi kepunahan kehidupan anggrek di alam tidak sekedar isapan jempol para pemerhati lingkungan, namun saat ini benar-benar sudah berada dititik kritis dimana laju kepunahan tersebut akan merangkak mulai dari species-species pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-NTT dan sekitarnya, kemudian Papua. Bahkan penulis berkeyakinan, Sumatera dan Sulawesi akan mengalami kepunahan ekosistem anggrek di alam pada 2015 bila tidak ada langkah-langkah signifikan yang segera dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. Hal ini berdasarkan pada perbandingan laju kerusakan dan eksploitasi di alam yang sangat amat jauh lebih cepat dibanding regenerasi populasi anggrek secara alami yang membutuhkan proses panjang hingga puluhan tahun. Kerusakan hutan tentu berimbas secara langsung pada rusaknya populasi anggrek di alam. Laju kerusakan hutan berjalan demikian cepatnya, bahkan dalam 1 hari luasan 5127,12 hektar dapat habis seketika. Jangan bangga dulu, karena pada detik inipunpun luas hutan dinegara kita tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Data FAO menyebutkan bahwa setiap tahunnya rata-rata 1,871 juta hektar luas hutan kita telah habis. Pada tahun 2005 luas hutan Indonesia yaitu 88,495 juta hektar, namun tahun 2006 yang lalu, angka ini terus menurun hingga 86,624 juta hektar. Dari data tersebut dapat dibayangkan berapakah jumlah populasi anggrek alam yang terkena imbasnya. Angka diatas belum ditambah dengan angka kerusakan populasi anggrek di alam akibat laju eksploitasi tak terkendali oleh para pemburu dan pedagang anggrek tak bertanggung jawab. Lalu, bagaimana dengan laju regenerasi dan rehabilitasi populasi anggrek di alam??? Di propinsi DIJ sendiripun tak lebih dari 10 ha per 5 tahun.
Masih dapatkah kita para pecinta anggrek Indonesia berdiam diri???

Produk hukum yang telah dibuat untuk mengatur pelestarian alam termasuk didalamnya pelestarian flora dan fauna di Indonesia sudah lama diundangkan. Antara lain UU No.5 th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, PP No. 7 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dan PP No.8 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar. Disamping itu, Indonesia telah meratifikasi konvensi CITES tentang perdagangan international species-species tumbuhan dan satwa sejak tahun 1978, namun sampai saat ini perdagangan liar tumbuhan dan satwa yang dilindungi masih saja banyak terjadi tanpa ada kebijakan dan kesepakatan bersama yang jelas antara pihak-pihak terkait.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki segudang potensi alam yang berprospek cerah pada segala bidang. Potensi inilah yang nantinya dimanfaatkan sebagai kunci alternatif strategi perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya yaitu untuk dikembangkan sebagai obyek penunjang dunia pariwisata nasional. Dunia pariwisata menjadi sangat penting karena merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dalam menunjang pergerakan perekonomian di tingkat bawah baik skala daerah maupun nasional. Selain mampu memberi income langsung kepada pemda setempat, sektor pariwisata secara langsung/tak langsung juga memberi imbas pada pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sekitar kawasan obyek wisata. Saat ini pola kepariwisataan domestic maupun mancanegara mulai banyak melirik pada obyek wisata yang menawarkan khasanah keindahan alam yang jauh dari kebisingan kota dan berkesan natural namun tetap menunjukan nilai-nilai pelestarian ekologis. Oleh karena itu, kepariwisataan alam kemudian berkembang munuju pola wisata ekologis yang sering disebut sebagai ecotourism dan wisata minat khusus atau special interest tourism. Kedua pola wisata ini dinilai menjamin tetap terpeliharanya keberadaan obyek dan daya tarik wisata alam pada khususnya.

Salah satu bentuk program alternatif dalam mengembangkan pola wisata ekologis (ecotourism) adalah kegiatan perlindungan anggrek alam sebagai organisme yang terancam punah dan juga habitat tempat hidup anggrek alam. Program ecotourism disini lebih menitikberatkan pada alternative solusi untuk program regenerasi serta rehabilitasi anggrek alam dalam mendukung konservasi anggrek secara langsung. Mengingat status kawasan hutan dan kawasan konservasi secara administrative masuk sebagai wilayah pemerintah daerah serta keadaan sosial ekonomi masyarakat kawasan hutan yang selalu berhubungan langsung dengan permasalahan eksploitasi anggrek alam. Maka konservasi anggrek alam yang dilakukan adalah berbasis masyarakat lokal. Pengembangan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi anggrek ini akan menjadi kelompok yang mandiri dalam pengelolaan pelestarian anggrek diwilayahnya. Perlunya pembentukan Forum Konservasi Aggrek Alam oleh kelompok tani hutan di tiap-tiap wilayah tingkat Kabupaten sebagai awal keterlibatan kelompok tani hutan yang terorganisir dalam upaya pelestarian anggrek alam di tingkat Kabupaten. Kelompok tani hutan inilah yang nantinya berlaku sebagai agen eksploitor anggrek alam yang “legal” dan terkendali. Anggrek alam ini nantinya dikembangkan melalui proses budidaya untuk menjadi komoditas unggulan dalam paket wisata ekologis.

Salah satu komponen penting dalam suksesnya skenario wisata ekologis adalah desain paket wisata itu sendiri. Lingkup wisata ekologis itu sendiri memiliki basis utama pada area dan kawasan alam lainnya, mirip dengan paket wisata alam lainnya. Hanya saja, perlu ada karakteristik tersendiri berupa adanya aktivitas langsung pembelajaran/pendidikan mengenai kelestarian ekologis. Oleh karena itu, paket wisata perlu dikemas se-interaktif mungkin agar pengunjung tidak sekedar memperoleh efek “refreshing” namun juga memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup. Kunci utama dari paket wisata ekologis ini adalah “interaksi”. Yaitu berusaha menciptakan kondisi interaksi aktif (interaktif) antara pengunjung dengan komponen-komponen obyek wisata ekologis yang ada. Berbicara mengenai konsep interaktif, maka dalam aplikasinya paket wisata ini dapat dikemas dengan berbagai aktifitas bertema ecology education termasuk didalamnya tentang konservasi.

Paket wisata ekologis yang ditawarkan berupa:

  • Obyek kawasan konservasi baik in-situ maupun ek-situ yang menyajikan koleksi-koleksi tanaman hutan tahunan dalam desain natural maupun artistic layaknya kebun botani.

  • Kemudian adanya habitat buatan bagi berbagai jenis anggrek alam layaknya “showroom” yang menampilkan dinamisme kehidupan anggrek di habitatnya. Misal showroom anggrek epifit, leafless orchid (anggrek akar), anggrek terrestrial, anggrek litofit, anggrek semi epifit dan sebagainya. Setiap melewati masing-masing showroom, pemandu wisata dapat menjelasakan berbagai hal berkenaan dengan habitat anggrek, pola adaptasinya terhadap lingkungan habitat, mekanisme fisiologis, adaptasi morfologi, sisi botani maupun siklus hidupnya dalam satu tahun. Fungsi pemandu wisata ini dapat digantikan dengan liflet atau audio aktif yang berada di masing-masing showroom.

  • Selain itu dalam kawasan konservasi tersebut perlu dibuat suatu petak-petak khusus sebagai habitat buatan bagi anggrek alam. Petak khusus ini dapat berupa hamparan tanah bermulsa organic sebagai habitat anggrek terrestrial, berupa area dengan pepohonan tahunan sebagai habitat anggrek epifit, atau berupa tumpukan gelondongan kayu lapuk sebagai habitat anggrek semi epifit. Pada tiap-tiap petak inilah para pengunjung secara aktif dapat melakukan penanaman anggrek alam sesuai dengan aturan-aturan yang telah dibuat. Para kelompok tani hutan akan kembali berperan sebagai supplier bibit anggrek alam yang dijual dengan harga standar yang jauh lebih murah daripada harga jual komersial umum. Anggrek inilah yang nantinya yang akan menjadi komoditas utama pada paket wisata ekologis. Anggrek alam yang ditawarkan pada paket wisata ini bukan untuk dibawa pulang oleh pengunjung, melainkan untuk ditanam langsung di kawasan konservasi tersebut. Bahkan aktifitas budidaya anggrek para petani hutan ini dapat juga dijadikan obyek wisata berkenaan dengan proses konservasi itu sendiri.

    Supaya dapat lebih menarik perhatian pengunjung terhadap skenario konservasi ini, maka pada setiap anggrek yang akan ditanam oleh pengunjung, diberikan sebuah label personal antiair yang dapat ditulis nama si pengunjung atau pesan-pesan khusus seperti “I love you”, sebagai ungkapan privasi masing-masing pengunjung serta sebuah kartu ucapan terimakasih sekaligus kartu identitas sebagai masyarakat peduli konservasi anggrek. Label personal ini natinya dicantumkan di tanaman anggrek yang ditanam oleh pengunjung. Sedangkan kartu identitas ini nantinya difungsikan layaknya identitas member suatu komunitas. Sehingga saat pengunjung tersebut datang kembali, maka dia akan memperoleh perlakuan khusus dan akan merasa bangga karena label personal tersebut tetap melekat pada anggrek yang menjadi tontonan pengunjung-pengunjung lainnya. Tentu saja interaksi yang diharapkan tidak hanya sampai pada proses penanaman, namun hingga proses pemeliharaan pun diharapkan turut berinteraksi, misal dengan melakukan penyemprotan pupuk atau air, sehingga muncul rasa memiliki, menjaga dan menghargai, yang berbuah rasa kebanggaan pribadi apabila tanaman anggrek yang dipeliharanya tumbuh baik, karena disitu terdapat symbol identitas pribadi sebagai alat pengakuan sosial.

Dengan scenario konservasi yang melibatkan interaksi langsung dari pengunjung, diharapkan terjadi suatu pembelajaran nilai-nilai penghargaan ekologis serta pemahaman langsung terhadap makna konservasi kepada para pengunjung. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari Grand-design dari paket wisata ekologis dibanding wisata alam lainnya. Grand-design paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan sebagai upaya penyelamatan anggrek alam tanpa merugikan masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi (kelompok tani hutan). Bentuk wisata ekologi ini diharapkan pula dapat memberikan alternative pendapatan lainnya kepada masyarakat yaitu sebagai jasa pemandu wisata, penginapan, anggrek alam sebagai cinderamata dll. Bentuk wisata ekologis ini akan bertahan dan terjamin keberlanjutannya apabila kawasan konservasi tersebut tidak terdesak untuk kepentingan lain. Untuk mendukung itu, instansi terkait dan masyarakat luas baik melalui LSM atau forum-forum swadaya diharapkan dapat memfasilitasi segala upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong terciptanya wisata terbatas sebagai alternative yang dapat menjamin terpeliharanya kehidupan anggrek alam yang selaras dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan fungsi kawasan konservasi dalam paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan terus dilakukan agar terdapat banyak jalur pilihan bagi para pengunjung. Demikian sekilas pemikiran dari penulis mengenai langkah-langkah alternative yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi kehidupan anggrek alam yang tentu saja banyak kekurangan disana-sini serta ha-hal lainl yang perlu dikembangkan lebih lanjut sesuai karakteristik wilayah masing-masing daerah.

salam konservasi!!
by Destario Metusala 07

Pelestarian Anggrek Alam Berbasis Komunitas Lokal di Era Otonomi Daerah

Tuesday, January 9th, 2007

Otonomi daerah memberikan konsekuensi untuk mengambil kewenangan sebesar-besarnya dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pengelolaan yang sebenarnya memiliki sisi negative berupa eksploitasi sumberdaya alam secara cepat. Alasan klasik yang sering dikemukakan yaitu untuk memenuhi tuntutan pendapatan asli daerah. Eksploitasi yang lebih buas juga terjadi pada kabupaten-kabupaten baru dalam rangka menguatkan capital daerah. Sumberdaya alam yang paling cepat menghasilkan cash income adalah hutan beserta potensi yang ada didalamnya, khususnya sebagai sumber kayu dan bahan mineral. Tak hanya itu, konsumsi lahan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan merupakan proyek menggiurkan untuk memperoleh pendapatan secara cepat dan praktis. Tak heran, dalam tempo 30 tahun sejak 1970-an, hutan tropis di Sumatra tinggal kurang dari 10 % luas semula. Ini berarti kerusakan yang terjadi 10 kali lebih cepat dari apa yang pernah terjadi di Jawa (Hutan hujan tropis di Jawa habis dalam jangka 100 tahun, yaitu antara 1800-1900). Bahkan World Bank meramalkan bahwa hutan hujan tropis di Kalimantan akan habis pada tahun 2010. Kerusakan hutan tersebut dipicu oleh konversi lahan untuk monokultur sawit, hutan industri (kayu pulp), pertambangan terbuka, pembangunan infrastuktur dan kebakaran hutan.

Saat ini, di Sumatera kita hanya bisa melihat hutan-hutan alam itu di sepanjang bukit barisan, dimana kawasan-kawasan taman nasional berada dan dikelola. Proses kepunahan ekosistem dan species saat ini terus terjadi di hamper seluruh Sumatera, dan menyusul Kalimantan, serta sangat mungkin pulau-pulau lainnya. Papua menjadi incara investor kehutanan karena disanalah “emas hijau” masih bertumpuk. Saat ini koperasi-koperasi yang diback-up cukong mulai membabat hutan-hutan alam di Papua. Masyarakat adat cukup dibayar Rp.20.000-50.000 per m3 kayu yang diperoleh.

Lalu kaitannya dengan anggrek alam….
Berkaitan dengan semakin menipisnya ekosisten hutan hujan tropis yang berperan sebagai habitat utama anggrek-anggrek species tropis, maka tak elak kepunahan plasma nutfah anggrek alam sudah didepan mata. Tanggung jawab siapakah ini?? Tentu saja tanggung jawab kita semua sebagai warga negara sekaligus pecinta anggrek. Kepunahan anggrek di alam tidak hanya 100 % oleh kerusakan habitat hutan, eksploitasi dalam rangka pemenuhan konsumsi kolektor anggrek juga menyumbang persentase yang cukup signifikan terhadap kepunahan anggrek alam. Oleh karena itu, sebagai pecinta anggrek (khususnya pedagang dan kolektor anggrek species) tentunya memiliki tanggung jawab yang tak kalah besarnya dengan tanggung jawab yang diemban pemerintah. Banyak pihak yang dengan suka rela ingin berperan sebagai eksploitor, meskipun harus mengeluarkan modal yang cukup besar dengan spekulasi yang tinggi. Namun pada giliran dimana peran konservator dan rehabilitator dibuka….banyak pihak yang menunjuk pemerintah sebagai pemain tunggal.

Pada kondisi saat ini konsep pemberdayaan masyarakat akan lebih efektif dibanding konsep konservasi secara terpusat. Semakin banyak gerakan-gerakan potensial ditingkat bawah justru akan mempermudah jalannya upaya konservasi. Komunitas-komunitas potensial di kawasan habitat anggrek alam, atau yang berbatasan dengan habitat anggrek harus menjadi prioritas awal untuk dibina dan diberdayakan. Karena komunitas inilah yang berhubungan langsung dengan kelestarian habitat anggrek. Komunitas ini tergolong kelompok yang rentan terhadap kerusakan hutan dan kerusakan habitat anggrek. Apabila hanya mengandalkan langkah eksploitasi sebagai senjata utama dalam mengeruk potensi anggrek alam, maka masa-masa keemasan hanya akan berlangsung sementara. Komunitas ini perlu berpikir lebih jauh agar potensi wilayahnya tidak serta merta “diboyong” keluar dari wilayahnya, karena pada saat terjadi kelangkaan anggrek alam di habitatnya, maka sumber pendapatan alternatif ini lambat laun akan berakhir. Menjual anggrek alam dengan harga tinggi bukanlah langkah yang efektif untuk mengatasi hal ini…anggrek bukanlah komoditas konsumsi utama yang harus ditebus berapapun mahalnya. Dengan melambungnya harga hingga mencapai nilai yg tidak realistis (ditandai dengan geleng2 kepala keheranan), maka sebagian besar konsumen justru akan berpikir realistis dan akan berlari mencari barang pengganti dengan harga yang lebih terjangkau. Mungkin hanya beberapa kolektor lama yang akan bertahan, merekapun tidak akan membeli banyak, bahkan cenderung cukup memiliki varietas yang terbaik saja. Mengandalkan pedagang?! Mereka justru lebih realistis dibanding konsumen umum.

Langkah yang perlu dikembangkan adalah dengan membudidayakan anggrek alam yang ada diwilayahnya. Varian2 istimewa harus dijaga dan dimanfaatkan untuk jangka panjang (indukan kultur jaringan) sebagai “pusaka andalan” wilayah tersebut. Siapa sih yang mau sering2 ke Jogja kalo resep asli gudegnya banyak tersebar diluar kota, dan tradisinya banyak ditemui di berbagai desa di Indonesia. Komunitas ini sering identik dengan komunitas adat, dan komunitas tradisional lainnya. Oleh karena itu, pembinaan mengenai pengenalan anggrek, teknik budidaya, pemahaman konservasi, dan ilmu2 pendukung lainnya sangatlah penting dilakukan. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penguatan kelembagaan komunitas. Pembinaan ini tentunya harus didukung pula oleh institusi pendidikan (universitas), LSM, investor lokal, atau dinas pemerintah terkait untuk membantu dalam proses pengadaan modal, atau bibit kultur jaringan dan saprodi. Dengan demikian, anggrek species yang dihasilkan selain akan lebih berkualitas dari segi mutu juga dapat bersaing dalam segi harga. Memang sistem ini memerlukan proses cukup panjang serta kerja keras, sebaliknya…tidak semua yang praktis dan singkat itu lebih baik.

Komunitas lokal/adat yang mapan diharapkan akan memiliki tanggung jawab moril dalam penjagaan kelestarian anggrek di habitatnya karena merekalah “harta” mereka. “Rasa memiliki” yang sebelumnya diwujudkan dengan aktivitas eksploitasi habis-habisan, maka lambat laun akan diimplementasikan menjadi rasa ingin melindungi. Mereka berharap, konsumen yang menginginkan anggrek khas wilayah tersebut akan membeli anggrek yang telah mereka budidayakan…bukan dari berburu di hutan. Disinilah kekuatan kelembagaan komunitas diuji kekompakan dan konsistensinya.

Dalam segi pemasaran, saat ini banyak tersedia media2 publikasi dengan range jangkauan pasar yang luas. Diantaranya melalui internet. Cukup melimpah forum-forum mailing list yang mengangkat topik pertanian, tanaman hias, bahkan spesifik ke anggrek. Media ini dipandang sebagai langkah yang jitu dalam pemasaran langsung pada konsumen akhir, bahkan tidak jarang pula akan bertemu dengan para distributor atau perorangan yang siap menjadi penyalur untuk daerahnya. Selain melalui media internet, dapat pula melalui bantuan organisasi yang bergerak dibidang anggrek. Organisasi ini tentunya akan memiliki akses yang lebih luas kepada para pedagang anggrek di kota2 besar.

Grand strategy ini tentu tidak akan berjalan tanpa dukungan dari komunitas potensial lainnya, yaitu konsumen yang terdiri dari para kolektor, hobiis, penggemar anggrek, dan pedagang anggrek. Kelompok masyarakat ini memegang peranan penting untuk menciptakan suasana dinamis yang mendukung gerakan pemberdayaan komunitas lokal…khususnya dalam pembentukan opini pasar dan selera pasar. Terakhir, bahwa pelestarian berbasis komunitas lokal akan berjalan apabila memberi manfaat nyata yang realistis bagi pelakunya.

by Destario Metusala 2007

Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi

Thursday, July 20th, 2006

Keberadaan Vanda tricolor di Lereng Selatan Merapi
Lereng Selatan Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman Jogjakarta masih menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Vegetasi yang menutupi wilayah ini meliputi padang rumput, semak belukar dan vegetasi pohon besar. Struktur vegetasi demikian merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan anggrek, baik itu anggrek tanah maupun anggrek epifit. Eksplorasi dan identifikasi yang dilakukan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta menemukan sekitar 53 jenis anggrek alam. Sebagian besar anggrek tersebut adalah epifit (menempel pada batang pohon). Salah satu anggrek khas daerah ini yang hampir punah keberadaannya di lereng Selatan Merapi adalah Vanda tricolor.
(more…)