<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anggrek.Org &#187; Perawatan &amp; Budidaya</title>
	<atom:link href="http://www.anggrek.org/category/perawatan-anggrek/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.anggrek.org</link>
	<description>Situs Forum Pecinta Anggrek Indonesia  (anggrek@yahoogroups.com)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Jun 2009 14:14:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Warna-Warni Si Anggrek Bulan</title>
		<link>http://www.anggrek.org/warna-warni-si-anggrek-bulan.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/warna-warni-si-anggrek-bulan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 04:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2007/09/07/warna-warni-si-anggrek-bulan/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar oleh Melvin 07 Gambar oleh Melvin 07 Siapapun pasti terpikat melihat keindahan bunga Phalaenopsis alias si anggrek bulan yang tergantung pada tangkai-tangkai bunga yang keluar dari tanaman2 anggrek yang sehat, yang sedang melayang-layang bagaikan kupu2 mengikuti semilir angin yang kerap menggerakan bunga2 tersebut. Penampilannya memang wah dan phalaenopsis agaknya semakin populer saja di kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://orchidweb.org/aos/MessageBoard/attachedfiles/24529/Kebunku3[1].JPG" alt="kebun phalaenopsis" /><br />
Gambar oleh Melvin 07</p>
<p><img src="http://www.aos.org/aos/MessageBoard/attachedfiles/24695/Kebunku1[1].JPG" alt="kebun phalaenopsis 2" /><br />
Gambar oleh Melvin 07</p>
<p>Siapapun pasti terpikat melihat keindahan bunga Phalaenopsis alias si anggrek bulan yang tergantung pada tangkai-tangkai bunga yang keluar dari tanaman2 anggrek yang sehat,  yang sedang melayang-layang bagaikan kupu2 mengikuti semilir angin yang kerap menggerakan bunga2 tersebut. Penampilannya memang wah dan phalaenopsis agaknya semakin populer saja di kalangan hobbiis anggrek dewasa ini. Namun ada anggapan bahwa genus anggrek ini cukup sulit dipelihara apalagi untuk membuatnya berbunga, tapi ternyata dengan beberapa tips dan triks yang praktis dan sederhana ternyata phalaenopsis dapat dibuat agar rajin berbunga dengan indahnya dan tentunya akan memuaskan mata-mata yang memandang.</p>
<p>Beberapa tips dan trik yang efektif adalah :<br />
1. Jika ingin memelihara dari kecil/botolan lebih baik membeli species/hibrida yang sudah mempunyai nama ataupun berasal dari silangan nursery yang sudah ahli dibidangnya. Bibit yang baik adalah langkah pertama yang penting sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.<br />
2. Jika membeli ukuran dewasa maka kenalilah dulu sifat Phalaenopsis anda sebelum membeli<br />
3. Banyak membaca artikel2 mengenai pemeliharaan Phalaenopsis dari buku2 anggrek atau media elektronik spt internet agar semakin mengasah kemampuan kita.<br />
4. Akar, yang sehat mutlak dibutuhkan untuk pembungaan, jadi perhatikan media yang digunakan agar akar phalaenopsis dapat tumbuh sempurna, sifat media dipilih yang dapat menyerap air tapi tidak menyimpan air, kombinasi media dapat dilakukan agar didapatkan sifat2 yang pas.<br />
5. Tanpa akar yang sehat, maka daun tidak akan tumbuh dengan baik, ciri2 tanaman yang sehat biasanya daun baru akan tumbuh makin besar/sama besar dengan daun sebelumnya. Jagalah daun agar tetap sehat krn pada organ ini yang berguna untuk memproduksi zat hara yang akan digunakan oleh tanaman.<br />
6. Jaga jangan sampai Phalaenopsis anda terkena hujan, daunnya yang besar dan bergelombang sering menyebabkan air hujan tertinggal dan dapat menyebabkan jamur penyakit untuk berkembang biak dan menyerang anggrek anda.<br />
7. Jaga jangan sampai terjadi dehidrasi pada anggrek anda, lakukan penyiraman secara teratur, namun tidak berlebih.<br />
8. Pemupukan dilakukan pada kedua bagian daun, atas dan bawah, pada waktu pagi hari sebelum cahaya matahari mengenai tanaman anda.<br />
9. Gunakan beberapa macam pupuk, selang-seling antara pupuk kimia dan pupuk organik, jika tanaman sudah dewasa boleh digunakan pupuk booster yang berkadar P tinggi.<br />
10. yang paling penting erhatikan 4 unsur penting dalam pemeliharaan Phalaenopsis yang tidak dapat diabaikan, diantaranya :<br />
a. Cahaya, Phalaenopsis termasuk anggrek yang tergolong tidak tahan oleh sinar matahari langsung, sinar matahari pagi-siang yang terhalang oleh bayangan dedaunan termasuk yang paling baik untuk menunjang pertumbuhan vegetatif dan memicu pembungaan. Umumnya Phalaenopsis dinaungi oleh paranet 65% jika area tanam terbuka dan paranet 55% jika area tanam dikelilingi oleh tembok/pohon2 besar.<br />
b. Kelembaban : Phalaenopsis suka dengan kelembaban, idealnya antara 60%-75%, terlalu lembab akan menyebabkan jamur mudah berkembang biak, terlalu kering akan menyebabkan tanaman dehidrasi. Untuk menjaga kelembaban dapat diletakan tanaman paku2an dan gentong air yg berisi tanaman dibawah pot Phalaenopsis<br />
c. Aerasi : Phalaenopsis termasuk anggrek epifit yang biasanya menempel pada pohon induk yang tinggi, dan menyukai aliran angin yang semilir, aerasi jg menjaga kadar kelembaban agar tidak terlalu jenuh.<br />
d: Temperatur : biasanya kunci pemicu pembungaan phalaenopsis adalah jika terjadi perbedaan suhu tertinggi &#8211; terendah  sekitar 10 derajat celcius, oleh karena itu temperatur ideal untuk si kupu2 ini adalah 18-28 drjt celcius. Jk diperhatikan maka masa-masa memasuki musim hujan akan menjadi waktu ideal bagi phal anda untuk memunculkan calon spikenya.</p>
<p>Dengan memperhatikan semua hal diatas maka diharapkan semua hobiis dapat membungakan phalaenopsisnya sekaligus menepis anggapan bahwa memelihara phalaenopsis itu sulit, selamat mencoba.</p>
<p>By. Melvin 07</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/warna-warni-si-anggrek-bulan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bioinsektisida, pengendali hama yang ramah lingkungan</title>
		<link>http://www.anggrek.org/bioinsektisida-pengendali-hama-yang-ramah-lingkungan.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/bioinsektisida-pengendali-hama-yang-ramah-lingkungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Feb 2007 05:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2007/02/04/bioinsektisida-pengendali-hama-yang-ramah-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Serangan hama merupakan salah satu faktor pembatas untuk peningkatkan produksi pertanian yang dalam kasus ini adalah pemeliharaan anggrek. Untuk megendalikan hama seringkali digunakan pestisida kimia dengan dosis yang berlebih. Padahal akumulasi senyawa-senyawa kimia berbahaya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Ditengah maraknya budidaya pertanian organik, maka upaya pengendalian hama yang aman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Serangan hama merupakan salah satu faktor pembatas untuk peningkatkan produksi pertanian yang dalam kasus ini adalah pemeliharaan anggrek. Untuk megendalikan hama seringkali digunakan pestisida kimia dengan dosis yang berlebih. Padahal akumulasi senyawa-senyawa kimia berbahaya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Ditengah maraknya budidaya pertanian organik, maka upaya pengendalian hama yang aman bagi produsen/petani dan konsumen serta menguntungkan petani, menjadi prioritas utama. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan jamur penyebab penyakit pada serangga (bioinsectisida), yaitu jamur patogen serangga <em>Beauveria bassiana</em>.<br />
Jamur <em>Beauveria bassiana </em>adalah jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Kemudian hifa-hifa tadi membentuk koloni yang disebut miselia. Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya.</p>
<p><img src="http://www.orchidweb.org/aos/MessageBoard/attachedfiles/20552/hhhh.jpg" alt="inokulan murni nya rio" /><br />
Gambar oleh Destario Metusala 07</p>
<p>Laboratorium BPTPH Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengembangkan dan memproduksi secara massal jamur patogen serangga<em> B. bassiana</em> sebagai insektisida alami. Berdasarkan kajian jamur <em>B. bassiana</em> efektif mengendalikan hama walang sangit, wereng batang coklat, dan kutu (Aphids sp). Akan tetapi, bukan tidak mungkin akan efektif bila diuji coba pada serangga-serangga hama anggrek seperti kutu gajah.</p>
<p>Sistem kerjanya yaitu spora jamur<em> B. bassiana </em>masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Selain itu inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang dapat berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kutikula tubuh serangga. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, miselia jamur akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Serangga yang terserang jamur <em>B. bassiana</em> akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih. </p>
<p>Dilaporkan telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur <em>B. bassiana</em>. Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (<em>Leptocorisa oratorius</em>) dan wereng batang coklat (<em>Nilaparvata lugens</em>) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphids sp.) pada tanaman sayuran.<br />
Beberapa keunggulan jamur patogen serangga <em>B. bassiana </em>sebagai pestisida hayati yaitu : </p>
<ul>
<li>Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.
</li>
<li>Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.
</li>
<li>Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman
</li>
<li>Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.
</li>
</ul>
<p>Teknik aplikasinya cukup mudah, yaitu dengan mengambil 2-3 gr formulasi dan disuspensikan dalam 1 ltr air, tambahkan 3 sendok gula pasir per tangki, waktu semprot sore hari. Dalam satu kemasan formulasi <em>B. bassiana</em>, berisi 100 gram formulasi padat. Itupun dapat dikembangbiakan secara konvensional, sehingga lebih menghemat pengeluaran. Akhirnya, walaupun keberhasilan dari insektisida biologis dari jamur ini memberikan dampak positif terhadap pengendalian serangga hama tanaman dan keselamatan lingkungan. Namun dalam penerapannya di masyarakat masih minim, sehingga memerlukan upaya sosialisasi yang lebih intensif. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/bioinsektisida-pengendali-hama-yang-ramah-lingkungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Phalaenopsis kunstleri</title>
		<link>http://www.anggrek.org/phalaenopsis-kunstleri.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/phalaenopsis-kunstleri.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Nov 2006 12:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/11/21/phalaenopsis-kunstleri/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar oleh Rahkmat Fitriawan 06]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.orchidweb.org/aos/MessageBoard/attachedfiles/18748/phal_kunstleri_ps[1].jpg" alt="phalaenopsis" /><br />
Gambar oleh Rahkmat Fitriawan 06</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/phalaenopsis-kunstleri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Penyiraman Bisa Berakibat Busuk Tunas Anakan</title>
		<link>http://www.anggrek.org/salah-penyiraman-bisa-berakibat-busuk-tunas-anakan.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/salah-penyiraman-bisa-berakibat-busuk-tunas-anakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Sep 2006 17:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/09/04/salah-penyiraman-bisa-berakibat-busuk-tunas-anakan/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada salahnya berhati-hati saat anda melakukan penyiraman di rumpun anggrek anda. Penyiraman yang kurang hati-hati dapat menyebabkan pembusukan pada tunas anakan. Tunas anakan anggrek, khususnya pada golongan dendrobium saat tumbuh akan membentuk kuncup daun yang menyerupai mahkota pada bagian atasnya. Kuncup yang menyerupai mahkota ini tak lain adalah ujung-ujung daun muda yang belum membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada salahnya berhati-hati saat anda melakukan penyiraman di rumpun anggrek anda. Penyiraman yang kurang hati-hati dapat menyebabkan pembusukan pada tunas anakan. Tunas anakan anggrek, khususnya pada golongan dendrobium saat tumbuh akan membentuk kuncup daun yang menyerupai mahkota pada bagian atasnya. Kuncup yang menyerupai mahkota ini tak lain adalah ujung-ujung daun muda yang belum membuka sempurna dan posisi ujung daun tegak keatas dengan membentuk suatu cekungan/rongga sempit di bagian tengahnya, persis menyerupai mahkota.<br />
<span id="more-72"></span><br />
Tunas anakan yang membentuk kuncup mahkota ini sangat perlu diperhatikan secara ekstra saat penyiraman. Air siraman dapat jatuh di tengah kuncup mahkota dan tertampung sehingga membentuk genangan di ujung tunas. Apabila didalam genangan ini terdapat spora jamur, maka sel-sel ujung tunas dan pangkal kuncup daun akan sangat mudah terinfeksi. Adanya air/kelembaban tinggi akan membantu berkecambahnya spora jamur. Tak lama kemudian spora jamur akan melakukan penetrasi dengan menembus dinding sel jaringan meristem dari ujung tunas. Ujung tunas dan kuncup daun merupakan jaringan meristem yang masih muda dan aktif membelah. Ciri dari sel meristem adalah dinding selnya yang belum mengalami penebalan sempurna. Keadaan ini menjadi sangat rentan apabila terinfeksi oleh benih jamur atau bakteri. Didalam sel tanaman, sel jamur atau bakteri akan merombak materi sel dan dinding sel menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana untuk memperoleh energi sekaligus sebagai materi perkembangbiakan. </p>
<p>Saat ujung tunas mengalami pembusukan, maka daerah infeksi menjalar menuju ke pangkal kuncup daun yang berhubungan langsung dengan ujung tunas. Pada tahap ini akan tampak, ujung daun muda menjadi kekuningan pucat, dan saat ditarik perlahan akan dengan mudah terlepas. Pada bagian pangkal tampak coklat lunak dan sedikit berlendir. Untuk mencegah penyebaran penyakit ke bagian tanaman yang lain, umumnya tanaman memiliki mekanisme tersendiri untuk menghambat jaringan pengangkut dengan semacam metabolit sekunder. Hal ini supaya saluran dari tunas anakan menuju bulb dewasa terhenti. Setelah pembuluh tersumbat oleh metabolit sekunder, maka aliran makanan untuk tunas anakan yang sekaratpun terhambat, sehingga dengan segera akan mati dan mengering. Saat tunas anakan mengering, diharapkan sumber infeksi turut terisolasi pada jaringan mati tersebut. Ujung tunas yang telah rusak tidak dapat tumbuh lagi, sehingga tanaman dewasa akan menumbuhkan tunas anakan dari mata tunas lainnya. Akan tetapi untuk lebih amannya, segeralah potong tunas anakan yang terinfeksi pada pangkal bulb yang bersambungan langsung dengan bulb dewasa dengan alat potong yang sudah diolesi spritus/alcohol 70-90%/fungisida/dibakar pada bagian tajamnya. Setelah dipotong, bagian potongan diolesi dengan spritus/alcohol/fungisida kemudian dibiarkan di tempat yang kering berangin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/salah-penyiraman-bisa-berakibat-busuk-tunas-anakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kuntum Bunga Anggrek Rontok?</title>
		<link>http://www.anggrek.org/kenapa-kuntum-bunga-anggrek-rontok.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/kenapa-kuntum-bunga-anggrek-rontok.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Sep 2006 17:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/09/03/kenapa-kuntum-bunga-anggrek-rontok/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar oleh Sukmanaya (2006) Melihat tonjolan kecil muncul dari tubuh tanaman anggrek kita mungkin sudah sering kita alami. Akan tetapi akan sangat membahagiakan bila tonjolan kecil tadi tumbuh menjadi sebuah tandan bunga dengan calon kuntum yang berderet di sepanjang tandan bunga. Setelah hari demi hari dilalui, calon kuntum semakin membesar dan&#8230;.tiba tiba 1-2 buah calon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.zeninteraktiv.com/img/dendro-gagal-bunga.jpg" alt="null" /><br />
Gambar oleh Sukmanaya (2006)</p>
<p>Melihat tonjolan kecil muncul dari tubuh tanaman anggrek kita mungkin sudah sering kita alami. Akan tetapi akan sangat membahagiakan bila tonjolan kecil tadi tumbuh menjadi sebuah tandan bunga dengan calon kuntum yang berderet di sepanjang tandan bunga. Setelah hari demi hari dilalui, calon kuntum semakin membesar dan&#8230;.tiba tiba 1-2 buah calon kuntum menguning dan rontok&#8230;.!!?? meskipun beberapa calon kuntum lainnya berhasil dewasa dan mekar sempurna, namun dalam hati ada rasa penasaran, mengapa hal tersebut terjadi&#8230;.<br />
<span id="more-71"></span><br />
Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan rontoknya calon kuntum bunga sebelum mekar. Berikut saya sari dari diskusi temen-temen di milis anggrek mengenai kerontokan bunga anggrek :</p>
<ul>
<li>Bunga pertama yang muncul dari tanaman anggrek hasil kultur jaringan pada umumnya mengalami kerontokan beberapa calon bunganya, selain itu terkadang panjang tandannya pun hanya pendek dan membawa sedikit kuntum. Hal ini karena tanaman baru pertama kali memasuki fase generatif dalam daur hidupnya, sehingga metabolisme hormon maupun akumulasi atp (energi) masih belum sempurna.</li>
<li>Kurang cahaya dapat menyebabkan kerontokan. Saat cahaya terlalu rendah maka laju fotosintesis juga rendah, sehingga cadangan makanan yang diperoleh hanya sedikit. Saat tanaman dipacu pemupukan dengan formulasi untuk pembungaan, maka fisiologis tanaman dirangsang untuk masuk pada tahap dimana fase generatif lebih dominan. Akibatnya dengan cadangan makanan yang ada, si anggrek tetap ngotot untuk memunculkan bunga. Akhirnya, setelah tandan terbentuk, biasanya tandan bunga pendek, dan calon bunga banyak yang berguguran. Hal ini terjadi karena calon-calon kuntum bunga kurang mendapat suplai makanan dan energi. Calon bunga juga merupakan jaringan hidup yang memerlukan energi dan materi sel.</li>
<li>Kekeringan akibat suhu tinggi juga salah satu penyebab kenapa calon kuntum bunga rontok. Why?? karena saat suhu tinggi maka penguapan air pun juga tinggi. Cadangan air (kelembaban) pada media yang minim akan cepat hilang karena penguapan. Penguapan tidak hanya terjadi pada media (evaporasi) tapi juga terjadi pada permukaan tanaman anggrek itu sendiri (transpirasi). Bila penguapan air berlangsung terus menerus, maka tanaman akan kehilangan banyak air didalam selnya. Organ yang pertama kali terkena efek buruk dari menurunnya kadar air dalam sel adalah jaringan muda (meristem) seperti calon kuntum bunga, sehingga sel-sel calon kuntum akan menyusut dan jaringan tampak berkerut dan akhirnya gugur.</li>
<li>Perubahan suhu mendadak. Perubahan suhu drastis yang mendadak dapat menyebabkan perubahan fisiologis secara mendadak seperti menurunnya aktifitas enzimatis dalam tubuh tanaman. Aktifitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Turunnya aktifitas enzimatis ini akan menimbulkan efek &#8220;stress&#8221; pada tanaman anggrek sehingga berbagai gejala seperti daun menguning dan rontok, calon kuntum bunga rontok dll. Tingkat suhu optimal untuk aktifitas enzim sangat bervariasi tergantung spesies. Selain itu, bagi anggrek dataran tinggi dalam keadaan memiliki calon kuntum, kemudian mendadak dibawa ke dataran rendah, maka penguapan air dalam tubuh tanaman akan drastis meningkat, sehingga organ tanaman yang sensitif (calon kuntum, ujung akar dll) akan menyusut dan layu. Hati-hati buat anggrek yang punya calon kuntum dan dibawa perjalanan jauh dan lama menggunakan mobil ber-ac atau ruang yang panas dan pengap, dikhawatirkan saat keluar mobil, si tanaman akan &#8220;terkejut&#8221; oleh perubahan suhu yang mendadak.</li>
<li>Konsentrasi pupuk daun yang terlalu pekat. Konsentrasi pupuk yang terlalu pekat selain berakibat buruk pada organ tanaman yang lain, calon kuntum bungapun juga sangat peka terhadap kerusakan. Apabila cairan pupuk daun yang terlalu pekat tersebut mengenai calon kuntum bunga maka, cairan pekat tersebut akan dengan mudah menembus dinding sel karena calon kuntum bunga merupakan jaringan muda yang dinding selnya masih tipis. Setelah menembus dindingsel maka cairan pekat akan menyebabkan osmosis yang tidak terkendali, sehingga cairan sel akan keluar dari dalam sel dan terjadilah plasmolisis. Membran sel akan berkerut dan rusak sehingga lambat laun sel akan mati. Dari tampak luar, akan terjadi pengeringan pada calon kuntum bunga kemudian rontok.</li>
<li>Invasi oleh lalat (lalat X, masih dalam pencarian tim litbang web.anggrek.org) kemungkinan besar semacam imago serangga dewasa mirip lalat buah atau kupu yang meletakkan telurnya ke bagian kuntum sehingga larva akan memakan kuntum, atau si lalat X tadi menghisap cairan sel dari calon kuntum. </li>
<li>Serangan kutu gajah. Kutu gajah memiliki kebiasaan &#8220;mencicip-cicip&#8221; jaringan jaringan muda untuk dia hisap cairan sel nya. Selain itu, kutu gajah dewasa juga melakukan ritual yang sama untuk menentukan posisi yang tepat untuk si buah hati tersayang. Setelah memperoleh posisi yang tepat dia akan mengebor bagian itu untuk meletakkan telurnya. Bagian kuntum bunga yang masih muda merupakan salah satu bagian favorit si kutu ini. Pas wawancara, kata dia sih rasanya &#8220;manis&#8221;.</li>
<li>Serangan penyakit. Serangan penyakit umumnya merupakan pengaruh sekunder akibat faktor lingkungan yang mendukung. Misal, kelembaban yang terlalu tinggi, sirkulasi udara yang tidak lancar, celah celah pada calon kuntum yang basah (untuk waktu yang lama). Semua hal tadi akan membangkitkan gairah si penyakit untuk melakukan penetrasi ke jaringan muda dari calon kuntum bunga yang notabene merupakan jaringan muda yang masih &#8220;empuk&#8221; dan sensitif terhadap gangguan pada fisiologisnya.</li>
<li>Pengaruh bahan-bahan zat kimia pengatur pertumbuhan seperti hormon dll. Penggunaan yang kurang tepat dapat menyebabkan ketidak seimbangan hormon endogen di dalam tubuh tanaman. Hal ini akan berlanjut pada gangguan pada metabolisme enzimatis pada tanaman, sehingga akan mempengaruhi pada pembelahan sel maupun pada metabolisme penyediaan energi bagi tanaman. Dapat juga menyebabkan peningkatan hormon etilen sehingga dimungkinkan menyebabkan kerontokan calon kuntum bunga.</li>
</ul>
<p>Mungkin itu dulu yang bisa rio munculkan dalam artikel ini, kepada temen-temen pembaca yang punya pengalaman lain, sangat-sangat dinantikan komentarnya di kolom comment sehingga wawasan ilmu pengetahuan kita semakin lengkap. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/kenapa-kuntum-bunga-anggrek-rontok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Kelapa Pemacu Pertumbuhan dan Pembungaan Anggrek</title>
		<link>http://www.anggrek.org/air-kelapa-pemacu-pertumbuhan-dan-pembungaan-anggrek.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/air-kelapa-pemacu-pertumbuhan-dan-pembungaan-anggrek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jul 2006 05:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/07/13/air-kelapa-pemacu-pertumbuhan-dan-pembungaan-anggrek/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar diambil dari http://www.mindforum.com/ Air kelapa ternyata memiliki manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Air kelapa yang sering dibuang oleh para pedagang di pasar tidak ada salahnya untuk kita manfaatkan sebagai penyubur tanaman. Selama ini air kelapa banyak digunakan di Lab sebagai nutrisi tambahan di dalam media kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air kelapa kaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.mindforum.com/food/special/2002/step/coconut.jpg" alt="kelapa" /><br />
Gambar diambil dari http://www.mindforum.com/</p>
<p>Air kelapa ternyata memiliki manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Air kelapa yang sering dibuang oleh para pedagang di pasar tidak ada salahnya untuk kita manfaatkan sebagai penyubur tanaman. Selama ini air kelapa banyak digunakan di Lab sebagai nutrisi tambahan di dalam media kultur jaringan.  <span id="more-56"></span></p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa air kelapa kaya akan potasium (kalium) hingga 17 %. Selain kaya mineral, air kelapa juga mengandung gula antara 1,7 sampai 2,6 % dan protein 0,07 hingga 0,55 %. Mineral lainnya antara lain natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P) dan sulfur (S). Disamping kaya mineral, air kelapa juga mengandung berbagai macam vitamin seperti asam sitrat, asam nikotinat, asam pantotenal, asam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin. Terdapat pula 2 hormon alami yaitu auksin dan sitokinin sebagai pendukung pembelahan sel embrio kelapa.</p>
<p>Penelitian di National Institute of  Molecular Biology and Biotechnology (BIOTECH)  di UP Los Baños mengungkapkan bahwa dari air kelapa dapat diekstrak hormon yang kemudian dibuat suatu produk suplemen disebut cocogro. Hasil penlitian menunjukkan bahwa produk hormon dari air kelapa ini mampu meningkatkan hasil kedelai hingga 64 %, kacang tanah hingga 15 % dan sayuran hingga 20-30 %. Dengan kandungan unsur kalium yang cukup tinggi, air kelapa dapat merangsang pembungaan pada anggrek seperti dendrobium dan phalaenopsis.</p>
<p>Mulai sekarang, cobalah untuk menyisihkan sedikit air kelapa yang kita minum untuk kita persembahkan kepada sahabat kita, anggrek tercinta. Slamat mencoba dan jangan lupa untuk melaporkan hasilnya sebagai evaluasi kepada teman-teman semua.<br />
Salam anggrek&#8217;ers</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/air-kelapa-pemacu-pertumbuhan-dan-pembungaan-anggrek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengawetkan Kesegaran Bunga Anggrek Potong</title>
		<link>http://www.anggrek.org/mengawetkan-kesegaran-bunga-anggrek-potong.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/mengawetkan-kesegaran-bunga-anggrek-potong.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jul 2006 04:20:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/07/13/mengawetkan-kesegaran-bunga-anggrek-potong/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar diambil dari http://www.votawphotography.com Bunga anggrek makin diminati. Pada saat ini makin banyak dihasilkan varietas baru anggrek didalam negeri. Tantangannya adalah menjaga agar bunga anggrek potong dapat tetap segar dalam waktu cukup lama. Pengiriman bunga anggrek potong tanpa pengawet kesegaran bunga, dikhawatirkan menurunkan umur peragaan bunga dan diameter bunga. Biasanya dilakukan pulsing, yaitu mencelupkan tangkai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.votawphotography.com/photo/Flowers/418-Pink%20Striped%20Dendrobium%20Orchid.jpg" alt="Phalaenopsis" /><br />
Gambar diambil dari http://www.votawphotography.com</p>
<p>Bunga anggrek makin diminati. Pada saat ini makin banyak dihasilkan varietas baru anggrek didalam negeri. Tantangannya adalah menjaga agar bunga anggrek potong dapat tetap segar dalam waktu cukup lama. Pengiriman bunga anggrek potong tanpa pengawet kesegaran bunga, dikhawatirkan menurunkan umur peragaan bunga dan diameter bunga.<br />
Biasanya dilakukan pulsing, yaitu mencelupkan tangkai bunga potong sedalam 4 cm kedalam larutan nutrisi selama 16 jam dalam ruang sejuk (21 derajat celcius), guna memberi bekal nutrisi cadangan sekaligus dapat melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyumbat pembuluh tangkai. Selama ini dipergunakan larutan pulsing berupa sukrosa 50 g/l, perak nitrat 25 ppm, asam sitrat 200 ppm.<span id="more-55"></span></p>
<p>Selain itu gula biasa (gula komersial) bisa digunakan sebagai pengganti sukrosa dalam pulsing. Komposisi bahan yang tepat untuk perlakuan pulsing adalah gula komersial 5 % + perak nitrat 25 ppm + asam sitrat 200 ppm (Prabawati, dkk. 2002). Komposisi ini dapat memperpanjang kesegaran bunga. Jika menggunakan gula komersial 5 % maka biaya larutan menjadi Rp.622,96 per liter larutan atau Rp. 10,30 per tangkai bunga. Jauh lebih murah dibanding dengan sukrosa murni Rp. 20.313,96/ liter larutan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/mengawetkan-kesegaran-bunga-anggrek-potong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pupuk Organik Untuk Anggrek</title>
		<link>http://www.anggrek.org/pupuk-organik-untuk-anggrek.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/pupuk-organik-untuk-anggrek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jul 2006 03:33:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/07/13/pupuk-organik-untuk-anggrek/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar diambil dari http://www.orchid.or.jp/ Seringkali apabila kita memelihara anggrek jenis terestrial, litofit, saprofit atau semi terestrial untuk menambahkan pupuk organik kedalam media tanamnya sebagai sumber unsur hara makro dan miro dan juga dapat untuk memperbaiki sifat kimia, biologi dan fisik tanah disekitar perakaran anggrek. Selain itu jika kita kreatif, maka sumber bahan organik dapat kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.orchid.or.jp/orchid/people/tanaka/INF/photo/bg2.gif" alt="manure" class="left" /><br />
Gambar diambil dari http://www.orchid.or.jp/</p>
<p>Seringkali apabila kita memelihara anggrek jenis terestrial, litofit, saprofit atau semi terestrial untuk menambahkan pupuk organik kedalam media tanamnya sebagai sumber unsur hara makro dan miro dan juga dapat untuk memperbaiki sifat kimia, biologi dan fisik tanah disekitar perakaran anggrek. Selain itu jika kita kreatif, maka sumber bahan organik dapat kita peroleh dengan mudah dari lingkungan sekitar kita, bahkan dari diri kita sendiri (ups!!). Berikut saya sajikan nilai kandungan rata-rata pupuk organik dari berbagai sumber bahan organik.<span id="more-54"></span></p>
<table>
<tr>
<th>Jenis Pupuk</th>
<th>Nitrogen (%)</th>
<th>Fosfor (%)</th>
<th>Kalium (%)</th>
</tr>
<tr>
<td>Kerbau</td>
<td>0,6-0,7</td>
<td>2,0-2,5</td>
<td>0,4</td>
</tr>
<tr>
<td>Sapi</td>
<td>0,5-1,6</td>
<td>	             2,4-2,9</td>
<td>			0,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Kuda</td>
<td>1,5-1,7</td>
<td>	             3,6-3,9</td>
<td>			4,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Domba</td>
<td>0,6-3,7</td>
<td>	             0,2-0,8</td>
<td>			0,1-1,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Ayam</td>
<td>1,0-2,1</td>
<td>	             8,9-10,0</td>
<td>		             0,4</td>
</tr>
<tr>
<td>Guano</td>
<td>0,5-0,6</td>
<td>	             23,5-31,6</td>
<td>		0,2</td>
</tr>
<tr>
<td>Tinja Manusia</td>
<td>3,0-3,2</td>
<td>	             3,2-3,4</td>
<td>			0,7</td>
</tr>
<tr>
<td>Kompos</td>
<td>0,5-0,7</td>
<td>	             1,7-3,1</td>
<td>			0,3-0,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Azzola</td>
<td>3,0-4,0</td>
<td>	             1,0-1,5</td>
<td>			2,0-3,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Daun lamtoro</td>
<td>2,0-4,3</td>
<td>	             0,2-0,4</td>
<td>			1,3-4,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Darah hewan kering</td>
<td>10,0-12</td>
<td>1,0-1,5</td>
<td>-</td>
</tr>
<tr>
<td>Jerami padi</td>
<td>0,8</td>
<td>0,2</td>
<td>-</td>
</tr>
</table>
<p>Penggunaan pupuk organik juga memiliki kelemahan, diantaranya ialah, diperlukan dalam jumlah yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dari suatu pertanaman (karena kandungan hara relatif rendah), bersifat ruah, baik dalam pengangkutan dan penggunaannya di lapangan, kemungkinan menimbulkan kekahatan unsur hara apabila bahan organik yang diberikan belum cukup matang (tanaman justru akan menguning dan merana). Oleh karena itu meskipun sangat dianjurkan, namun dalam pemakaiannya juga harus cermat dan tepat.</p>
<p>Oh iya, berikut saya berikan pula beberapa informasi mengenai karakterisasi kompos yang telah selesai mengalami proses dekomposisi secara sempurna (matang) ditinjau dari kondisi fisik. </p>
<ul>
<li>Berwarna coklat tua sampai kehitam-hitaman
	</li>
<li>Tidak dijumpai adanya lalat atau bau busuk yang masih menyengat
</li>
<li>Suhu pupuk sudah tidak tinggi/panas/hangat (pendinginan merupakan    indikator selesainya proses pengomposan, meskipun bahan kompos telah dibalik dan disiram tetap tidak timbul panas)
	</li>
<li>Struktur nya remah, pupuk menjadi media yang lepas-lepas dan tidak kompak,<br />
             sehingga sulit dikenali lagi bahan dasarnya.
</li>
</ul>
<p>Jika masih ragu, berikut tips uji tingkat kematangan pupuk menggunakan perkecambahan benih.<br />
Untuk menguji kematangan pupuk organik, botol bekas selai atau botol minuman mineral yang dipotong setengah diisi pupuk yang sudah disaring, benih tanaman tertentu (yang pernah saya coba yaitu biji bayam liar) ditanam dan pertahankan kondisi pupuk tetap lembab. Botol berisi pupuk dan benih diletakkan di tempat yang terang dan terbuka. Karena benih sangat sensitif terhadap faktor tumbuh, maka tingkat kematangan pupuk dapat diukur berdasarkan kecepatan pertumbuhan benih.</p>
<ul>
<li>Pupuk matang	: benih akan berkecambah setelah 2-3 hari dan setelah 5-7 hari<br />
                                         berwarna hijau dengan akar cukup panjang berwarna putih.
	</li>
<li>Pupuk segar	: hanya beberapa benih yang tumbuh dan memerlukan waktu yang lebih lama, daun berwarna hijau pucat, akar pendek pertumbuhan tanaman kerdil, dan daun kadang-kadang berwarna kuning kecoklatan.
</li>
</ul>
<p>Selamat berpupuk dan beranggrek ria!!<br />
By. Destario Metusala 06</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/pupuk-organik-untuk-anggrek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengenalan Fungisida</title>
		<link>http://www.anggrek.org/pengenalan-fungisida.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/pengenalan-fungisida.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jul 2006 03:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/07/13/pengenalan-fungisida/</guid>
		<description><![CDATA[Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya. Fungisida Nonsistemik Fungisida nonsistemik tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya. <span id="more-52"></span></p>
<ol>
<li><strong>Fungisida Nonsistemik</strong><br />
Fungisida nonsistemik tidak dapat diserap dan ditranslokasikan didalam jaringan<br />
Tanaman. Fungisida nonsistemik hanya membentuk lapisan penghalang di permukaan tanaman (umumnya daun) tempat fungisida disemprotkan. Fungisida ini hanya berfungsi mencegah infeksi cendawan dengan cara menghambat perkecambahan spora atau miselia jamur yang menempel di permukaan tanaman. Karena itu, fungisida kontak berfungsi sebagai protektan dan hanya efektif bila digunakan sebelum tanaman terinfeksi oleh penyakit. Akibatnya, fungisida nonsistemik harus sering diaplikasikan agar tanaman secara terus-menerus terlindungi dari infeksi baru.</li>
<li><strong>Fungisida Sistemik</strong><br />
Fungisida sistemik diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya melalui pembuluh angkut maupun melalui jalur simplas (melalui dalam sel).  Pada umumnya fungisida sistemik ditranslokasikan ke bagian atas (akropetal), yakni dari organ akar ke daun. Beberapa fungisida sistemik juga dapat bergerak ke bawah, yakni dari daun ke akar (basipetal).<br />
Kelebihan fungisida sistemik antara lain :</p>
<ul>
<li>Bahan aktif langsung menuju ke pusat infeksi didalam jaringan tanaman, sehingga mampu menghambat infeksi cendawan yang sudah menyerang di dalam jaringan tanaman.</li>
<li>Fungisida ini dengan cepat diserap oleh jaringan tanaman kemudian didistribusikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bahan aktif dan residunya tidak terlalu tergantung pada coverage semprotan, selain itu bahan aktif juga tidak tercuci oleh hujan. Oleh karena itu, aplikasinya tidak perlu terlalu sering.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Fungisida Sistemik Lokal</strong><br />
Fungisida sistemik local diabsorbsi oleh jaringan tanaman, tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. Bahan aktif hanya akan terserap ke sel-sel jaringan yang tidak terlalu dalam dan tidak sampai masuk hingga pembuluh angkut.
</li>
</ol>
<p>Menurut mekanisme kerjanya, fungisida dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Multisite Inhibitor</strong><br />
Multisite inhibitor adalah fungisida yang bekerja menghambat beberapa proses metabolisme cendawan. Sifatnya yang multisite inhibitor ini membuat fungisida tersebut tidak mudah menimbulkan resistensi cendawan. Fungisida yang bersifat multisite inhibitor (merusak di banyak proses metabolisme) ini umumnya berspektrum luas. Contoh bahan aktifnya adalah maneb, mankozeb, zineb, probineb, ziram, thiram.
</li>
<li><strong>Monosite Inhibitor</strong><br />
Monosite inhibitor disebut juga sebagai site specific, yaitu fungisida yang bekerja dengan menghambat salah satu proses metabolisme cendawan, misalnya hanya menghambat sintesis protein atau hanya menghambat respirasi. Sifatnya yang hanya bekerja di satu tempat ini (spectrum sempit) menyebabkan mudah timbulnya resistensi candawan. Contoh bahan aktifnya adalah metalaksil, oksadisil, dan benalaksil.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/pengenalan-fungisida.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insektisida Hayati</title>
		<link>http://www.anggrek.org/insektisida-hayati.html</link>
		<comments>http://www.anggrek.org/insektisida-hayati.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2006 08:22:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Destario Metusala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perawatan & Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anggrek.org/index.php/2006/07/10/insektisida-hayati/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar diambil dari http://whatcom.wsu.edu/ Budidaya anggrek tentunya akan mengalami interaksi baik dari lingkungan abiotik (tak hidup) dan lingkungan biotik (hidup). Salah satu bentuk interaksi biotic yaitu parasitisme, dimana anggrek berada sebagai organisme yang dirugikan, sedangkan hama sebagai organisme yang diuntungkan. Oleh karena itu, untuk melindungi tanaman anggrek dari gangguan hama, kita dapat menggunakan berbagai cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://whatcom.wsu.edu/ag/comhort/nooksack/ipmweb/images/!78-FALA.jpg" alt="bugs" /><br />
Gambar diambil dari http://whatcom.wsu.edu/</p>
<p>Budidaya anggrek tentunya akan mengalami interaksi baik dari lingkungan abiotik (tak hidup) dan lingkungan biotik (hidup). Salah satu bentuk interaksi biotic yaitu parasitisme, dimana anggrek berada sebagai organisme yang dirugikan, sedangkan hama sebagai organisme yang diuntungkan. <span id="more-49"></span>Oleh karena itu, untuk melindungi tanaman anggrek dari gangguan hama, kita dapat menggunakan berbagai cara seperti pengandalian mekanis (efektif apabila hama sedikit dan ukurannya besar) atau kimiawi (pestisida). Meskipun anggrek bukan merupakan tanaman pangan, namun untuk mengurangi pemaparan residu kimia sintetik pada lingkungan, kita dapat menggunakan beberapa jenis pestisida hayati berikut.</p>
<p>1.	Bawang putih (<em>Alium sativum</em>)<br />
100 g bawang putih, 0,5 l air, 10 g sabun, dua sendok teh minyak mineral (minyak bayi). Bawang putih diparut/digerus dan dicampur minyak mineral, biarkan selama 24 jam. Sabun dilarutkan dicampur bawang putih dalam minyak mineral secara merata kemudian disaring dengan kain halus. Penggunaannya untuk setiap satu bagian campuran dilarutkan kedalam 20 bagian air. Bahan ini efektif untuk beberapa jenis serangga pengganggu. Meskipun demikian perlu juga diuji coba dengan tingkat konsentrasi yang berbeda untuk mengetahui konsentrasi yang paling efektif.</p>
<p>2.	Kecubung (<em>Datura stramonium</em>)<br />
1 kg daun pucuk kecubung segar, bunga dan biji dihancurkan, kemudian direndam dalam 10 l air, dan cairan sabun. Rendaman ini dibiarkan paling tidak selama 3-5 jam. Kemudian disaring dengan kain lalu disemprotkan. Disarankan untuk ditambah sabun cuci cair sebagai zat pembasah (surfactant).</p>
<p>3.	Mindi (<em>Melia azedarach</em>)<br />
150 g daun mindi segar diblender dalam 200 ml air, kemudian dicampur kedalam 800 ml air biasa dan dibiarkan semalam. Larutan di saring dengan kain kemudian dapat langsung disemprotkan. Dapat juga menggunakan biji mindi segar.  0,25 kg biji mindi ditumbuk halus kemudian dicampur dengan 1 liter air, selanjutnya disaring dan dijadikan larutan sebanyak 5-7 liter. Dalam larutan ditambahkan pula 2 sendok teh sabun cuci cair. Ekstrak ini dapat mengusir belalang.</p>
<p>4. Nimba (<em>Azedarachta indica</em>)<br />
Minyak biji nimba memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal membunuh, mengusir, dan meracuni serangga ataupun organisme pengganggu lainnya seperti nematode dan cendawan. Minyak biji nimba dapat diperoleh dengan mengekstrak biji menggunakan air. Biji yang sudah dikumpulkan, dibersihkan dari daging buahnya, kemudian dikeringkan agar tidak berjamur saat penyimpanan. Pada saat akan digunakan, biji dikupas dari kulitnya, 25-50 g biji ditumbuk halus dan direndam dalam 1 l air, ditambahkan pula dengan 2 sendok teh sabun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 500 g biji kering yang direndam dalam 400 l air dapat digunakan untuk lahan seluas 4000 m dan mampu bertahan selama 2 minggu apabila tidak terkena hujan lebat.</p>
<p>4.	Pepaya (<em>Carica papaya</em>)<br />
1 kg daun papaya segar dirajang halus dan direndam kedalam 10 liter air kemudian ditambah 2 sendok makan minyak dan sabun cair. Dibiarkan selama semalam, disaring dengan kain halus kemudian disemprotkan.</p>
<p>5.	Tembakau (<em>Nicotiana tabacum</em>)<br />
1 kg daun tembakau (daun sisa-sisa) dirajang halus dan direndam dalam 15 liter air, ditambah 2 sendok teh sabun cair kemudian dibiarkan semalam. Setelah disaring dapat digunakan untuk disemprotkan. Atau dapat pula setiap 200 g daun tembakau diblender dan dilarutkan ke dalam 3 l air.</p>
<p>	Disamping tanaman tersebut diatas masih banyak tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida hayati, misalnya biji bengkuang, daun sirsat, umbi gadung racun, dan sebagainya yang suatu saat akan penulis upload ke web tercinta ini. Jadi tunggu dan simak terus perkembangan web ini dari hari ke hari. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anggrek.org/insektisida-hayati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
