16 thoughts on “Dendrobium Fimbriatum

  1. Anggrek ini apakah asli Indonesia? Ada keraguan dari JB Comber, bahwa anggrek ini mungkin 1 jenis dengan Dendrobium atavus (ditemukan di Jawa) yang secara morfologis mirip dengan D. fimbriatum. Yang membedakan pada D. atavus bibir bunga berwarna kuning polos, bisa jadi D. atavus dikemudian hari digolongkan pada D. fimbriatum.

  2. aku sempet terbesit hal yg sama….memang sih dr morfologi tanamannya terlihat sama, tapi kok aku blum pernah ngeliat dokumentasi D.atavus u referensi morfologi bunganya ya.

  3. setahu sy anggrek ini pernah ditemukan d daerah timur pulau jawa mulai dari banyuwangi hingga pulau dewata, untuk daerah jawa timur sy belum pernah ketemu

  4. pak yosef…
    saya mau doong,tapi kalau dibeli boleh ngga??krn saya ngga punya barter’annya..maklum saya baru 4th jadi pencinta anggrek..
    boleh ya pak? :)
    thx infonya

  5. Comber berpendapat bahwa kemungkinan D. atavus adalah bentuk “semipeloric” atau “peloric” dari D. fimbriatum.
    Ini adalah pendapat pribadinya. Memang kalau diperhatikan, D. fimbriatum dan D. atavus mirip kalau labellumnya ditutup.
    D. atavus bentuk labellum nya mirip dengan bentuk petal nya.
    Kita tunggu saja keputusan para ahli, apakah direvisi atau tidak.
    Menurutku, kasus “peloric” atau “semipeloric” jarang terjadi. Memang sering terjadi pada species tertentu semacam D. tetrodon, tapi rasanya kalau semua D. atavus itu adalah bentuk “semipeloric” dari D. fimbriatum bisa disebut luar biasa.

  6. Saya gustu dari pulau dewata, saya punya cukup banyak anggrek jenis ini
    dan pohonnya tumbuh dengan sangat subur, batangnya sampai mencapai
    2m akan tetapi jarang keluar bunganya, apa sebabnya ya?
    Bunganya sangat indah sekali akan tetapi umur bunganya tidaklah terlalu lama sekitar 1 mingguan dari bunganya keluar bau yang harum.
    Saya sempayt baca dari buku cetakan th 80an bahwa anggrek ini disebut
    sebagai D.Fibriatum dan sagat cocok dgn ciri-cirinya.

  7. saya joko, mahasiswa yang sedang meneliti tentang kultur in vitro anggrek..setahu saya ada beberapa jenis anggrek yang frekuensi berbunga sangat lama dan ketahanan bunganya hanya beberapa hari, hal tersebut dikarenakan gen-gen yang ada telah teradaptasi untuk hidup dengan cara demikian..tetapi ada juga yang frekuensi berbunga dan ketahanan dipertahankan atau paling tidak dijaga agar lebih baik..tips dr saya:
    lakukan pemupukan dengan pupuk yang cocok dengan tahap pertumbuhannya..pada saat pembesaran atau setelah berbunga jangan dipaksakan dengan pupuk tinggi P dan K (pupuk untuk berbunga), karena walaupum berbunga tidak akan lama, tetapi beri pupuk dengan N yang tinggi hingga pseudobulb terlihat baik (gemuk) baru beri pupuk kadar P dan K tinggi..
    pada saat pemupukan dan penyiraman jang sampai mengenai bunga atau knop bunga untuk menghindari pembusukan atau tekanan osmotik yang kurang baik sehingga bunga sepat gugur..jangan lupa!!waktu penyiraman dengan pupuk hanya 2-3 minggu sekali..penyiraman air biasa juga rutin dan tepat waktu yaitu jangn lewat jam 10 pagi dan setelah jam 4 sore..sebetulnya masih banyak tips lain,,SAYA MINTA TOLONG DONG KALAU PEMBACA ADA PUNYA DATA PENJUALAN ATAU PERMINTAAN PASAR AKAN Dendrobium antenatum MAKASI SEBELUMNYA KIRIM KE (jk010105@yahoo.co.id)

  8. Wah salam kenal, saya dari Bali, pencinta anggrek sejak 20 tahun yang lalu, aggrek ini D. fibriatum emang punya bunga cantik, di Bali saya punya beberapa rumpun, tergolong rajin berbungga sayang hanya bertahan mekar 5 hari, sangat mudah merwatnya, Buat pak Gatsu kalo di dataran rendah menurut saya emang jarang berbunga karena habitat aslinya di kitinggian 800-1200 m dpl, di daerah Sepang.

  9. saya seorang tuna netra yang sedang berbagi ilmu anggrek dengan teman2 sesama tuna netra yang lain, namun masih kekurangan ilmu dan terutama jenis2 anggrek spesies untuk bahan pengajaran terutama jenis2 langka dikarenakan keterbatasan modal.. apa ada yang mau membantu kami? jika ada dermawan yang sudi berbagi koleksi tanaman anggrek sp langka nya hub saya di 085317645559. terima kasih

Leave a Reply